Penjajahan Zaman Modern


Resensi Buku

Data buku
Judul Buku: Perampok Bangsa-Bangsa Mengapa Emas Harus Jadi Mata Uang Internasional?
Penulis: Ahamed Kameel Mydin Meera
Penerbit: MIZAN
Tebal: xliii + 187
ISBN: 978-979-433-447-8

Penjajahan Zaman Modern

oleh Hary Mulyadi

Penjajahan adalah hal yang sangat ditentang oleh semua orang bahkan tercantum dalam dasar negara kita. Bagaimana tidak, penjajahan adalah bentuk perampokan dan pelanggaran hak asasi manusia secara besar-besaran. Sadar atau pun tidak, peduli atau pun tidak penjajahan itu masih berlangsung hingga saat ini. Terutama di negara-negara berkembang termasuk negara kita. Namun bukan dengan cara konfrontasi seperti terjadi pada jaman penjajahan dulu, saat ini pajajahan terjadi lebih halus.

Bangsa-bangsa besar dan kapitalis menghisap kekayaan negara berkembang dan terbalakang. Dari mulai barang tambang, hutan, laut, bahkan tenaga manusia. Sehingga tidak heran, walaupun kita berada di zaman modern tetapi krisis keuangan masih ada. Uang kertas yang kita miliki saat ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada masa berikutnya menjadi tidak berari. Bab I buku ini menjelaskan mengapa globalisasi dan liberalisasi keuangan tidak ada bedanya dengan penjajahan. Termasuk mengapa masyarakat tanpa uang kontan bisa menyempurnakan penjajahan ini.

Kontan, negara berkembang adalah objek dari semua sistem fiat moneter global berbasis bunga. Mereka dilanda kerugian, imbas daripadanya akan timbul chaos di dalamnya. Sistem moneter sekarang, bank-bank islam tidak akan mungkin bebas beroprasi dari suku bunga/riba. Padahal riba dilarang keras dalam Islam. Dalam suatu hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Rasulullah SAW mengatakan, “Akan tiba masa ketika kalian tidak akan dapat menemukan seoranga pun di dunia ini yang tidak makan riba. dan bahkan ketika seseorang menyatakan bahwa dia tidak makan riba, maka pastilah debu riba sampai kepadanya.” Bagi muslim hal tersebut tak boleh dianggap sepele. Allah swt. mengancam dengan hukuman berat para pelaku riba. Dosa yang harus ditanggung karena keterlibatan dengan riba adalah dosa terbesar kedua setelah syirik. Rasulullah saw. telah pula menegaskan bahwa kedudukan mereka yang terlibat dengan riba, langsung atau tidak, yaitu mereka yang membayarkan, yang menerima, yang mencatat, dan yang membiarkannya, adalah sama kedudukannya. Mereka semua berdosa atasnya.

Mengapa dosa riba begitu besar dan ancaman hukumannya begitu berat? karena akibat riba adalah kesengsaraan semua orang. Riba telah mengakibatkan seluruh beban kehidupan menjadi semakin tidak tertanggungkan. Biaya dan harga pun menjadi berlipat ganda. Perhatikan kenyataan disekeliling kita, semula setiap keluarga secara relatif mudah dapat memiliki rumah. Tetapi, ketika tanah-tanah dikuasai oleh bankir melalui pengembangan-pengembangan, maka memiliki rumah mulai menjadi barang mewah. Dan dengan dalih menolong masyarakat, para bankir menciptakan Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Namun akibatnya justru harga rumah semakin tak terjangkau. KPR yang semula ditujukan untuk rumah tipe 70, harus diturunkan untuk tipe 60, lantas untuk tipe 45, lalu tipe 36, dan kini semakin kecil lagi, untuk tipe 21. itu pun hanya bisa dibeli oleh sedikit orang, karena harganya semakin mahal tak terjangkau.

Lihat pula biaya kesehatan dan pendidikan. Lagi-lagi dengan dalih membantu masyarakat untuk “meringankan” biaya jasa sosial ini para rentenir menciptakan berbagai bentuk kredit, asuransi, tunjangan, dan sebagainya, yang semuanya berbasis pada utang berbunga. Lagi-lagi akibatnya adalah justru biaya kesehatan dan pendidikan semakin tidak terjangkau. Sebab, selain membayar ongkos untuk jasa pendidikan dan kesehatan itu sendiri, masih harus ditambah dengan biaya bunganya. Bunga berbunga, berlapis-lapis, yang merembet ke semua aspek kehidupan. Di sinilah kebenaran hadits di atas, “tidak ada yang bisa dibelanjakan,” karena “semua terlibat riba” yang mengakibatkan harga berlipat ganda.

Namun Rasulullah saw. memberikan petunjuknya pada kita, ada pengecualian, yakni dinar dan dirham. Dinar adalah koin emas seberat 4,25 gram sedang dirham adalah koin perak murni  2,975 gram. Riwayat Urwah, salah seorang sahabat Rasulullah berikut ini memberikan salah satu buktinya.

Rasulullah saw memberi Urwah uang satu dinar untuk memberikan seekor domba. Tetapi dengan uang satu dinar itu dia ternyata berhasil memperoleh dua ekor domba. Maka dia menjual salah satunya senilai satu dirham dan membawa seekor yang lain, beserta sekeping dinar, kepada Rasulullah saw. Atas kecerdikan Urwah tersebut Rasulullah saw. memintakan berkah pada Allah swt. atasnya, dan menyatakan, “Dia akan menjadi seorang pedagang yang selalu mendapat laba bahkan bila ia berdagang debu sekalipun” (HR Bukhari).

Nilai satu dinar saat ini (Februari 2011) setara dengan sekitar Rp 1,69 juta, di Bandung dapat dibelikan 1 – 2 ekor domba. Di madinah di zaman Rasulullah, sebagaimana diuraikan dari riwayat Urwah, harga seekor domba berkisar 0,5 – 1 dinar. Jadi selama lebih dari 1400 tahun nilai tukar sekeping dinar tidak berubah. inflasi dinar adalah 0%. Bandingkan dengan uang rupiah kita, dalam rentang waktu sejauh yang dapat kita ingat, yakni sejak rupiah itu sendiri dicipatakan, pada 1946. Ketika pertama kali rupiah ini diciptakan daya belinya terhadap emas adalah Rp. 2/gram. artinya sekeping koin dinar (4,25 gram) dapat dibeli hanya dengan uang Rp. 8,5. Dapat dipastikan pada waktu itu harga seekor domba tidak akan lebih dari Rp 8,5.

Jadi, hanya dalam kurun sekitar 65 tahun, rupiah telah kehilangan daya belinya sekitar 198.000 ribu kali. Dengan kata lain, secara nyata, rakyat Republik Indonesia (RI) mengalami pemiskinan struktural dan istemik sedasyat itu, 1/198.000 lebih miskin, dibandingkan dengan masa sebelum kemerdekaan RI. Dan semua itu karena riba yang bukan saja telah menjadi sistem, melainkan menjadi cara hidup saat ini, sebagaimana dijelaskan di atas.

Buku karangan Prof Ahamed Kameel Mydin Meera ini memaparkan secara jelas dan memberikan argumentasi akademis namun mudah dipahami oleh kalangan awam. Buku ini membedah hal-hal seperti, inflasi adalah suatu hal yang bukan alami tapi rekayasa sosial, apa hakikat uang kertas dan bagai mana cara kerjanya, secara telaten buku ini pun mengkritisi sistem moneter fiat berbasis bunga dan menunjukkan dampak-dampak apa saja yang dihasilkannya. Tiga point utama yang disebutkan sebagai ciri sistem meneter saat ini, adalah bunga, fiat money/uang tanpa nilai intrinsiknya, dan kewajiban untuk memelihara cadangan minimum di bank sentral. Pada bagian dua buku ini dipaparkan mengenai jalan keluar dari permasalahan ini. Dinar dalam hal ini memberikan banyak keuntungan, seperti proteksi keungan (hedging) dalam mengelola nilai tukar mata uang asing (foreign exchange) melebihi instrumen-instrumen derivatif lainnya, seperti suku forward (forwards), future (futures), dan opsi (options). Dinar emas pun dapat diimplementasikan untuk memastikan neraca perdagangan bilateral/multilateral termasuk transaksi-transaksi domestik. Buku ini dtulis dengan bahasa sederhana dan menghindari model-model matematika yang rumit sehingga tidak memberatkan pembacanya. Sebaliknya, pembaca diajak untuk merenung dan menghayati sejumlah hal. (HAR)

 

2 Responses

  1. Resensi yang menarik dari buku yang saya rasa juga pasti menarik. Jadi penasaran ingin membaca bukunya. Boleh pinjam bukunya ngga?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: