Berlatih Disiplin Lewat Ibadah Shalat

Sebuah keberhasilan erat terkait dengan suatu keteraturan. Hal-hal yang diperlukan untuk meraihnya dirinci, didefinisikan, dan dijadwalkan. Tak kalah penting, rencana dimplementasi berdasar rencana dan terkontrol secara reguler. Disiplin ialah salah satu faktor untuk meraih keteraturan. Efeknya bisa membuat pekerjaan tidak terlambat dilakukan, tidak tumpang tindih, atau bahkan terabaikan.

Perlu latihan untuk membuat disiplin menjadi bagian dari diri kita. Bagi seorang muslim, shalat adalah salah satu sarana yang bisa dimanfaatkan untuk memupuk sifat itu. Jadi shalat tak hanya dilakukan untuk menggugurkan kewajiban, tapi dilakukan sepenuh hati dan dimaknai sepenuhnya sehingga berefek positif dalam banyak hal. Contohnya, menjadi adil saat mengatur waktu atau bisa menempatkan suatu hal pada tempatnya.

Oleh karena itu, ibadah — dalam hal ini shalat — sangat layak bahkan penting untuk dilakukan, disadari nilai-nilai positif di dalamnya. Lakukan dengan rutin, sukarela, dan tidak sekali-kali meninggalkannya. Bahkan lakukan di masjid untuk berjamaah tepat waktu, untuk memperoleh hasil terbaik dari shalat. Perbaiki terus bacaan-bacaanya, tata caranya, dan tumaninah saat mengerjakannya.

 

Iklan

Pengambil Resiko (2)

Tulisan ini melanjutkan tulisan yang telah lama ditulis. Serasa punya hutang, karena ada kata bersambung di tulisan itu. Berikut hasil pengembangan ide yang telah lama tersimpan kotak draft.

Hasil gambar untuk risiko keputusan
Courtesy: bukanmanajemenbiasa.blogspot.com

Review – pengambil resiko adalah sebuah sikap berani seseorang dalam menghadapi periode-periode di kehidupannya. Di lihat dari sudut pandang pribadi, hal ini erat kaitannya dengan karir, keuangan, hubungan, atau hal-hal besar lainnya yang bisa berdampak besar pada gaya hidup.

Pengambilan resiko pun sangat erat kaitannya saat di tempat kerja. Efek yang ditimbulkannya tidak hanya pada perusahaan tempat dia bekerja tapi bisa terbawa ke rumah dan keluarganya. Salah-salah mengambil keputusan, pekerjaan jadi taruhannya. Bila pekerjaan tergadai, keluarga lah yang menanggung akibatnya. Mau dikasih makan apa anak dan istrimu.

Lawannya adalah orang-orang yang berusaha tetap dalam zona aman. Polanya adalah asalkan gaji terus keluar, hutang-hutang tertutupi, dan ada harapan untuk hari tua. Itulah sikap meraka yang mencari posisi aman di kantor, rajin dan taat prosedur, tidak tampil beda, dan tentu tak mau melakukan hal yang beresiko menjatuhkan karir / jabatannya.

Namun, pada dasarnya siapapun berhak untuk memilih apa yang dia ingin. Tidak ada keharusan untuk menjadi seorang pengambil resiko atau yang cari aman di zona nyaman. Resiko masing-masing yang menanggung. Tapi jelas, seorang pemberani itu sangat layak disematkan bagi Sang pengambil resiko.

Memang tak mudah memiliki jiwa pemberani. Boleh dikata, beruntunglah bagi kebanyakan orang yang yang semasa kuliah / mudanya aktif di berbagai bidang kegiatan / organisasi / kemahasiswaan. Karena di sana mereka tahu berinteraksi, berkomunikasi, berfikir, bekerja, dan berkarya. Saat dia rela bertahan untuk tetap tergabung di komunitasnya, saat itu pula dia meningkatkan level jiwa keberaniannya. Semakin besar kualitas kumpulannya semakin besar pula kualitas keberaniannya. Boleh lah di bilang, beda kualitas antara kumpulan karang taruna dan remaja masjid dengan unit / organisasi kemahasiswaan. Alasannya sederhana, unit mahasiswa itu terdiri dari orang yang lebih kritis dan terdidik.

Di dunia nyata orang-orang yang berwirausaha apalagi pengusaha adalah orang yang jelas-jelas terkategori sebagai pengambil resiko. Mereka berani berbuat meski tidak dijamin benar dan berhasil. Pengambil resiko lekat pula dengan seorang pemimpin. Presiden, Gubernur, RT, atau bahkan organisasi masjid sekalipun yang mana mereka tidak mengenal upah.

Lantas bagaimana dengan mereka yang terlambat sadar akan pentingnya keberanian agar bisa mengambil resiko?. Karena dia dahulu tidak pandai bergaul, sekalipun aktif di unit mahasiswa tidak dihayati / hanya ikut-ikutan saja. Apalagi bila sempat menjadi seseorang yang memangku jabatan. Maka dari itu, mulailah saat ini juga. Tak ada kata terlambat, banyak jalan menuju roma. Banyak bertanya dan belajar dari orang-orang yang dinilai punya sikap itu. Banyakkan pula membaca terutama dari buku. Banyak baca membuat banyak ilmu, banyak konsep. Saat ide bertemu dengan semangat bisa melahirkan hal dasyat. Akan lebih dasyat pula bila punya teman yang konsisten mendukung.

Caranya praktisnya adalah dengan memperkaya keterampilan dan pengalaman. Buat turn over berkali-kali. Perbanyak pekerjaan dengan sering berbuat. Tidak perlu besar dan sangat ideal. Mulai dari hal kecil, definiskan hal-hal kecil, atau pekerjaan yang sehari-hari yang rutin dilakukan. Lakukan dari yang kecil dan mudah. Bila menemui jatuh bangun itu biasa. Itu lah resiko yang akhirnya bisa ditemui dan yang terpenting bisa untuk dihayati. Itulah pelajaran berharga, pelajaran hidup di Universitas Kehidupan. Tak ada seorangpun yang mau menjamin berhasil, namun tak perlu takut akan kegagalan bila rencana sudah dibuat.

 

Menikmati Hidup dengan Hobi Kayu

WhatsApp Image 2018-07-22 at 14.07.56

Hobi kayu sebenarnya biasa saja. Umum karena banyak orang yang punya hobi itu. Meski begitu, punya hobi itu jelas sangat menyenangkan. Waktu bisa habis tak terasa berjam-jam demi sebuah hobi.

Banyak review dan tutorial perkayuan di youtube. Tak susah untuk mulai berlajar. Bahkan dapat langsung menciptakan produk – konkrit. Ini adalah salah satu kelebihannya. Sebuah benda yang tak hanya bisa dilihat tapi diraba. Tapi, persoalannya  hobi semacam ini perlu fisik dan stamina lebih. Jauh beda dengan hobi bermain game atau membuat game.

Mungkin bila beberapa menit saja belum terasa capek. Tapi bila sudah 2 jam, sadar atau tidak konsentrasi bisa mulai turun. Meskipun semangat masih menggebu karena ‘projeknya’ belum beres.

Orat-oret disain amatiran tampak gampang di atas kertas. Coba dilihat saat implementasinya. Mutlak perlu ekstra otot dan konsentrasi. Maka sangat dianjurkan untuk makan lebih dulu bahkan stretching.

Mesti berpikir dua kali bila ingin mengembangkan hobi ini menjadi komersil. Agak rumit saat berhitung untuk uang di sini. Sebab berat secara fisik dan jumlah produk yang dihasilkan tak mudah untuk diperbanyak. Butuh ekstra tanaga, waktu, bahkan teman. Apalagi jika termasuk orang yang cukup sibuk,  dan waktu yang menjadi modalnya.

Hobi adalah hobi. Hobi itu untuk dinikmati. Bukan untuk mengejar kebutuhan apalagi kewajiban. Ini esensi hobi, yang dapat menjadi penawar kalkulasi rumit bila pikiran terperangakap dengan hitung-hitungan keuangan pribadi.

Setidaknya, hasil karya hobi ini bisa dipakai untuk kebutuhan kostumisasi kerperluan pribadi. Tentunya yang didapat dengan biaya lebih murah, meski bisa tak sempurna dan waktu yang lama.

Fokus Pada Bentuk Akhir

Capture

Pekerjaan seorang Developer Software berbeda dengan seorang Operator Software. Perbedaan mencolok Developer dituntut untuk terus berfikir mencari jalan keluar. Setiap hari diibaratkan dihadapkan dengan soal-soal ujian yang baru. Lain hal dengan Operator yang tinggal duduk manis di hadapan mesin/PC lalu bekerja mengikuti prosedur-prosedur yang telah terdefinisi.

Tentu tak hanya jenis pekerjaan ini yang selalu dihadapkan dengan hal baru setiap hari. Ada profesi lain yang cara kerjanya mirip, seperti seorang peneliti, analis, desainer, atau pun detektif. Namun, tetap saja meski variannya banyak, jumlah personalnya tidak sebanyak para operator.

Sebuah pengalaman berkaitan dengan pekerjaan semacam ini, membuat pertanyaan pada diri. Mampukah agar dapat selalu mencarikan solusi tugas-tugas di hari esok. Sampai kapankah rutinitas yang memeras pikiran ini berjalan.

Terlebih bila bertemu dengan hal membuat cemas, yakni saat tugas itu bertemu dead-line. Meski telah diatur dari awal mekanisme penyelesaiannya, namun bisa sajadi tahap akhir pengerjaan, di H-1, mendapat kebuntuan. Program yang bekerja dengan tampil melalui editor tidak sama dengan yang tampil dari hasil packing.

Meski pada akhirnya persoalan itu bisa diselesaikan. Tapi penyelesaian itu sungguh perlu pemikiran dan (tentu) pengerjaan lagi. Butuh tambahan waktu!. Seberapa efektif dan benar solusinya, bergantung pada kemampuan IQ developer ybs. dan pengalamannya.

Ambilah pelajaran, pada fokus bentuk akhir/hasil yang diminta. Pastikan fitur-fitur utama telah terpenuhi/terimplementasi di program lebih awal. Atur sedemikian rupa agar produk akhir bisa siap paling tidak H-2 meski beberapa fitur belum rampung. Atau paling tidak, terbukti skema penyelesaiannya. Hal-hal yang bersifat tek-tek bengek bisa dikerjakan kemudian.

Seriuslah Belajar dan Tuliskan

Sumber Gambar: harmonas.com

Keasyikan dengan rutinitas harian bisa membuat kita lupa untuk menambah kapasitas diri kita sendiri. Siapapun, entah itu pelajar, pekerja, atau seorang pemimpin sekalipun. Memang bisa juga, kita menambah ilmu saat melakukan suatu pekerjaan, sambil menyelam minum air. Tapi apakah hasilnya benar-benar membekas dan prosesnya efektif. Lebih jauh, dapatkah pengalaman diandalkan sebagai cara utama bagi kita menambah kapasistas diri.

Saya pikir, mau atau tidak untuk meraih ilmu harus dimulai dengan niat yang jelas. Jiwa, raga, dan fikiran disertakan untuk hal itu. Tanpa penetapan tujuan, mustahil didapat hal yang maksimal. Kalaupun didapat, pastinya diri kita menganggap itu sebagai sebuah keberuntungan. Beda halnya bila dimulai dengan niat sungguh-sungguh, segala upaya, strategi, suasana, dan pendukung lainnya akan terarah untuk siap. Akhirnya, kepuasan akan didapat apapun hasil yang diraih. Saat kita telah memahaminya dengan sebenar-benarnya, diri merasa tercerahkan dan memiliki kepercayaan diri lebih. Bila pun belum, maka akan termotivasi untuk terus mencari dan memperdalam sampai benar-benar tercapai apa yang diinginkan.

Penyempurna dari proses ini adalah pengulangan. Bisa lewat lisan dengan mencoba menyampaikannya ke orang lain atau tulisan dengan merangkum atau memformulasikannya versi sendiri.

Sedianya sebuah tulisan adalah karya yang tidak pernah mati. Layaknya sebuah prasasti sejarah, tulisan akan terus dijadikan referensi untuk pengembangan ataupun perbaikan suatu kajian di kemudian hari. Itu pula lah yang menjadi alasan orang saat ini bisa menduplikasi sebuah sistem, proses produksi, konstruksi infrastruktur, dan lain sebagainya. Tak heran, pendokumentasian menjadi sebuah standar baik tidaknya sebuah organisasi atau sistem. Standar kualitas semisal SNI, ISO, atau Six Sigma, semuanya bemuara pada keteraturan dalam pendokumentasian.

Karya tulisan pulalah yang membuat sebuah pemikiran dan kajian menjadi berharga lebih. Dari mulai catatan pelajaran seorang siswa, blog seorang blogger, tulisan opini di media massa, jurnal ilmiah seorang peneliti, proposal sekelompok remaja masjid untuk mengadakan acara pentas seni, sampai proposal kerjasama bisnis sebuah perusahaan besar. Sebab, tulisan itu merefleksian siapa kita, apa yang kita bisa lakukan, apa yang bisa orang dapat dari kita, dan lebih jauh apa yang bisa orang lakukan dan berikan untuk kita.