Dari Bosan ke Sopan

Mengajarkan Anak Sopan SantunManusia itu makhluk sosial. Hidup berkelompok, tak bisa hidup menyendiri.  Telah menjadi tabiaatnya untuk saling bergantung satu sama lain. Bergaul dan berkerja. Saling mengisi kekosongan dan kebutuhan. Mulai dari cakupan warga suatu negara, masyarakat di suatu kota, rekan sejawat, tetangga di kampung, hingga keluarga dalam sebuah rumah tangga.

Adakala interaksi di dalamnya mencapai titik jenuh. Sekian lama beraktivitas bersama, hidup berdampingan. Seperti ada rasa bosan bertemu dengan orang yang sama. Bisa disadarinya atau tidak. Ini hal sangat serius. Mesti diwaspadai agar diri tak terkuasainya.

Rasa bosan itu bisa timbul karena tak lagi mendapatkan kesamaan persepsi atas suatu hal. Mungkin, bila satu atau dua, tidak akan menjadi sebuah persoalan. Tapi, bila hal itu banyak dan terus berulang sekian lama, maka suatu saat titik itu sangat mungkin terjadi. Kompak saat ada maunya, bentrok saat timbul bosannya. Awalnya mengurusi urusannya masing-masing. Berikutnya kebingungan akibat kewalahan. Minta tolong tak digubris malahan ditolak. Akhirnya, kecewa bahkan memaki.

Hal semacam itu memang lumrah. Layaknya sistem fisis, semakin banyak elemen di suatu teritori maka semakin besar entropinya, alias derajat ketidakteraturannya. Bak buah simalakama, tetap bersama jadi cekcok, tapi bila sediri jadi repot. Seperti domba yang terpisah dari kawanan, akan mudah dimangsa srigala. Maka dari itu, mutlak dibutuhkan pengelolaan lebih lanjut.

Lantas seperti apa?. Mudahnya adalah dimulai dari diri sendiri. Yakni, menanamkan sifat sabar dan pemaaf. Sabar, ciri bisa mengendalikan diri. Pemaaf, ciri memiliki hati yang bersih dan tekad yang tulus. Tak larut lupa diri. Tak kalut atas perlakuan buruk orang lain. Selagi memiliki niat baik, harapan perubahan masih ada. Hati akan menjadi luluh dan tidak egois. Harmoni akan kembali.  Momentum awal untuk penyatuan ulang visi.

Hal lainnya adalah menghindari sifat dengki dan menumbuhkan rasa kasih sayang. Dengki menimbulkan iri pada kesuksesan atau kebahagiaan orang lain. Kasih sayang akan menghidarkan diri dari sifat tercela itu. Mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya. Berbagi suka dan duka, tangis dan tawa. Laiknya satu tubuh, bila satu sakit yang lain ikut merasakan. Agama menuntun dengan saling memberi hadiah. Kedengkian bisa lenyap dengan hadiah. Hingga tak ada ada lagi prasangka buruk orang. Malah jadi tahu apa kesenangan orang. Hadiah tak harus wah, sebab esensinya adalah kejutan. Dia akan kagum dan respek sampai sayang. Ini lah saat di mana penyatuan visi telah diraih.

Bukti atas cinta yang dalam adalah berkata dengan lemah lembut. Suara yang rendah, tutur kata sopan dan perangai santun. Itulah ciri manusia yang beradab dan berakhlak mulia. Bercakap tidak saling mendahului. Mendengarkan lawan, fokus pada ucapan apa yang dia maksud. Bukan malah sibuk memikirkan pada kalimat apa yang ingin dikatakan. Suara tinggi itu cenderung ingin menguasai, suara rendah itu ingin memberi, dan perkataan sopan itu mutiara. Dengan itu moga pertemanan kan abadi.

Karakterisasi Berbuat Baik

Perbuatan baik adalah perbuatan yang mulia. Tak hanya orang lain yang merasakannya tapi diri sendiri pun bisa ikut merasakan hal yang sama. Luruskan niat dan lakukan tanpa terpaksa. Kemanfaatan atas diri pun akan tersebar pada orang di sekitar kita. Bisa dengan berbakti pada orang tua, mengajarkan suatu hal pada adik, menolong teman atau tetangga, bekerja dengan sungguh-sungguh, bersedekah, beribadah, senyuman, atau pun tidak beprasangka buruk.

Selepas berbuat baik, ada baiknya luruskan niat kembali. Menyadari bahwa kita telah berbuat atas niat yang telah ditanamkan. Hal ini berguna untuk bisa lebih menghargai diri. Semacam reward. Tanpa harus menghitung-hitung jasa atau uang yang dikeluarkan. Apalagi sampai timbul tinggi hati. Harapannya, hati kan terasa kian ikhlas atas apa yang telah diperbuat.

Layaknya melatih keterampilah semisal berolah raga, berbuat baik pelu dilakukan secara berkesinambungan. Alias mebiasakan diri untuk berbuat baik. Bahkan membuatnya sifat dan karakter diri. Dengan sendirinya pula, mudah di kemudian hari untuk melakukan repetisi kebaikan. Ketagihan untuk berbuat baik.

Banyak hal perbuatan baik yang bisa dilakukan. Syaratnya, niat yang lurus dan sesuai dengan tuntunan agama. Namun, janganlah menjerumuskan diri pada kehancuran. Bila telah habis tenaga kita tuk menolong. Bila telah kurang tabungan tuk membantu. Cobalah cari cara berbuat dengan cara lain. Tidak malah dengan hal yang menggadaikan diri atau keluarga. Atur intensitas untuk berbuat baik yang dinilai besar. Bisa sepekan sekali atau sebulan sekali. Isi hari-hari diantaranya dengan hal baik yang lebih kecil. Tak perlu muluk pada orang jauh. Pada rekan kerja seruangan, tetangga sebelah, orang serumah, atau anak istri sendiripun jangan sampai luput.

Bila berbuat baik ini telah menjadi motivasi diri. Yakinlah, hal ini bisa lebih mendorong diri untuk bisa berkarya lebih baik bahkan terbaik. Bekerja kian produktif sekaligus memberi kemanfaatan lebih pada siapapun. Pikiran kan tenang, hati kan menjadi lapang. Sebuah kebahagiaan yang kan tak ternilai lewat kata-kata.

Malu dan Sikap Baru

Apa jadinya saat rekan kerja anda berani mempermalukan anda. Kejadian konyol yang telah anda lakukan disebar ke orang lain. Terlepas lingkup sebarnya luas atau tidak. Terlepas niatnya hanya untuk lucu-lucuan atau memang disengaja. Faktanya, anda merasa diri anda telah dipermalukan. Martabat anda terasa direndahkan. Kewibawaan anda terasa tergadaikan.

Serba salah, bingung, heran, marah, lucu, sedih, kecewa, semua campur aduk menjadi satu. Di satu sisi memakluminya. Namun di sisi lain kecewa karena anda telah dipermalukan. Apa yang salah dengan diri, mengapa harus terjadi hal semacam ini.

Ini adalah bercanda yang kebablasan. Tak ada rasa hormat. Tak menjaga kehormatan dihadapan orang lain. Walau bagaimana pun itu adalah aib. Terasa lebih menakutkan, lantaran di era ini, informasi sekecil apapun akan mudah beredar. Anda akan dikenal akan kekonyolan anda dan ditertawakan banyak orang.

Apa yang perlu diintrospeksi dari hal ini. Apakah ada hikmahnya. Berharap diri tetap tenang menghadapi kenyataan.

Bisa jadi ini cobaan. Mengingatkan bahwa tindak-tanduk diri kita sedianya sentiasa diawasi. Mudah bagi-Nya untuk membuka aib kesalahan yang kita lakukan, kapan saja dan pada siapa saja. Namun, sejatinya hal yang perlu kita takuti di saat benar-benar tak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Di akhirat kelak, semua aib kan tersingkap.

Mungkin hal berikut bisa menjadi rumus tuk menghadapi cobaan semacam ini. Sabar dan berserah diri pada-Nya. Bisa menjaga sikap di mana pun dan dengan siapapun. Termasuk saat di kesendirian. Meyakini tak kan ada yang sia-sia atas segala bentuk upaya positif untuk menghadapinya. Bila pun marah, malah akan memperburuk situasi. Malah bisa menambah catatan amal buruk. Maka maafkanlah dan perbaikilah sikap.

Berat. Tapi matahari kan tetap terbit esok pagi. Move on. Tak mungkin gara-gara hal sepele semacam itu membuat semuanya menjadi runyam. Buku catatan amal baik masih perlu terus ditambah. Banyak amalan shaleh yang perlu terus dilakukan. Tataplah masa depan untuk bisa istiqamah mengisinya. Teruslah berkarya, tebar manfaat, tegakkan kebenaran, cegah kemungkaran. Dengan sikap baru yang didapati. Dari hikmah yang terjadi. Semoga Tuhan meridhai.

Cara Narsis Kuliner

Tetap inspiratif dengan tips berikut untuk pengambilan foto kulinermu. Tips dari fotografer di sepenjuru dunia.

  • Bersihkan taplak dan piring kotor untuk memperoleh gambar-gambar cantik.
  • Coba taruh secara mendatar, bisa di atas sebuah meja, lalu ambil gambar tampak atas.
  • Jaga kamera tetap ajek untuk mendapat gambar yang jelas.
  • Dapat pula dengan membawa makanan ke luar ruangan lalu membuatnya sebagai model.

Jangan lupa berikan cerita tentang rasa, aroma, tempat, suasana, atau cara mendapat maupun membuat hidanganmu. Untuk berbagi pengalaman kelezatan dan kebahagiaannya.

Sumber :
Google Local Guides

Kejujuran Mutiara Diri

Kejujuran ialah modal dasar berharga bagi kita untuk menghadapi berbagai urusan. Bukan hanya harta, kecerdasan, atau otot. Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladannya. Meski beliau rupawan, cerdas, bahkan seorang panglima perang namun kejujuran adalah sifat yang lebih banyak dikenal pada pribadinya. Pada saat sebelum diangkat menjadi seorang rasul, beliau telah digelari Al-Amin. Sebuah penghargaan penghormatan di tengah masyarakat yang masih jahiliyah kala itu.

Langkah pertama untuk meraih sifat ini adalah jujur pada diri sendiri. Dengan cara tidak berpura-pura menjadi orang lain, tidak berlindung dibalik gelar kesarjanaan, jabatan, atau kekayaan. Jujur atas anugrah lahiriyah dan kemampuan diri menjadi duta diri atau portofolio tak tertulis. Yang akan dibawa ke mana-mana bahkan ke tempat asing tanpa ada orang yang telah dikenal.

Banyak persoalan terasa ringan saat kejujuran telah mendarah daging dalam diri. Perkataan, perbuatan, dan tingkah laku akan selaras. Tak kan ada udang di balik batu. Tak kan ada tekanan beban atas tuntutan perkerjaan atau permintaan orang lain. Saat bisa dikatakan bisa. Saat tak mampu dikatakan tidak. Sehingga dengan itu, ia akan mudah untuk amanah.

Buah kejujuran adalah kepercayaan. Perlu ditanam dan dijaga dalam diri. Tak beda dengan bercocok tanam atau investasi  usaha. Kelak, manis buahnya bisa dirasakan. Yakni, sebuah kepercayaan yang hanya bisa didapatkan oleh orang-orang jujur.

Dagangan seorang penjual laku keras, sebab ia menakar sesuai timbangan. Tak menyembunyikan cacat dan kurangnya. Karyawan dengan karir terus menanjak, karena ia amanah atas tugas dari atasannya. Seorang ustadz memiliki banyak jamaah. Lantaran ia konsisten antara ucapan dan tindakannya. Sehingga orang lain bisa melihat amalannya lalu tak ragu meniru. Seorang pemimpin dicintai rakyatnya. Berkat keadilannya untuk jujur menempatkan suatu perkara ditempat semestinya, tidak menyalahgunakan jabatannya.

Di tengah era krisis kepercayaan ini, kejujuran akan menjadi mutiara dan aset berharga. Sebuah modal kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia.