Seriuslah Belajar dan Tuliskan

Sumber Gambar: harmonas.com

Keasyikan dengan rutinitas harian bisa membuat kita lupa untuk menambah kapasitas diri kita sendiri. Siapapun, entah itu pelajar, pekerja, atau seorang pemimpin sekalipun. Memang bisa juga, kita menambah ilmu saat melakukan suatu pekerjaan, sambil menyelam minum air. Tapi apakah hasilnya benar-benar membekas dan prosesnya efektif. Lebih jauh, dapatkah pengalaman diandalkan sebagai cara utama bagi kita menambah kapasistas diri.

Saya pikir, mau atau tidak untuk meraih ilmu harus dimulai dengan niat yang jelas. Jiwa, raga, dan fikiran disertakan untuk hal itu. Tanpa penetapan tujuan, mustahil didapat hal yang maksimal. Kalaupun didapat, pastinya diri kita menganggap itu sebagai sebuah keberuntungan. Beda halnya bila dimulai dengan niat sungguh-sungguh, segala upaya, strategi, suasana, dan pendukung lainnya akan terarah untuk siap. Akhirnya, kepuasan akan didapat apapun hasil yang diraih. Saat kita telah memahaminya dengan sebenar-benarnya, diri merasa tercerahkan dan memiliki kepercayaan diri lebih. Bila pun belum, maka akan termotivasi untuk terus mencari dan memperdalam sampai benar-benar tercapai apa yang diinginkan.

Penyempurna dari proses ini adalah pengulangan. Bisa lewat lisan dengan mencoba menyampaikannya ke orang lain atau tulisan dengan merangkum atau memformulasikannya versi sendiri.

Sedianya sebuah tulisan adalah karya yang tidak pernah mati. Layaknya sebuah prasasti sejarah, tulisan akan terus dijadikan referensi untuk pengembangan ataupun perbaikan suatu kajian di kemudian hari. Itu pula lah yang menjadi alasan orang saat ini bisa menduplikasi sebuah sistem, proses produksi, konstruksi infrastruktur, dan lain sebagainya. Tak heran, pendokumentasian menjadi sebuah standar baik tidaknya sebuah organisasi atau sistem. Standar kualitas semisal SNI, ISO, atau Six Sigma, semuanya bemuara pada keteraturan dalam pendokumentasian.

Karya tulisan pulalah yang membuat sebuah pemikiran dan kajian menjadi berharga lebih. Dari mulai catatan pelajaran seorang siswa, blog seorang blogger, tulisan opini di media massa, jurnal ilmiah seorang peneliti, proposal sekelompok remaja masjid untuk mengadakan acara pentas seni, sampai proposal kerjasama bisnis sebuah perusahaan besar. Sebab, tulisan itu merefleksian siapa kita, apa yang kita bisa lakukan, apa yang bisa orang dapat dari kita, dan lebih jauh apa yang bisa orang lakukan dan berikan untuk kita.

Iklan

Perlu Aset Untuk Hidup

feature_cover_assets_large
sumber gambar prospectmagazine.co.uk

Pak Marno adalah seorang dosen dan peneliti di Universitas tekemuka di Indonesia. Beliau selalu menuliskan hasil penelitiannya dalam bentuk jurnal, hingga tembus verifikasi internasional. Tidak Sedikit hasil karyanya yang dijadikan referensi penilitian lain atau pun sumber untuk tesis dan disentasi para mahasiswa. Saking produktifnya hampir ratusan tulisan dia hasilkan padahal batas minimal jumlah tulisan dan penelitian sebagai seorang dosen telah dipenuhinya. Tak heran di usianya yang masih relatif muda beliau banyak dikenal dibidangnya sampai-sampai sering diundang menjadi pembicara ahli di acara seminar atau simposium di berbagai daerah hingga mancanegara.

Lain dengan Pak Marno lain Pak Encep. Bapak ini berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah menengah di kota Bandung. Tak lazimnya sebagai seorang guru, di tempat tinggalnya di luar kota, beliau sering dan rajin melakukan uji coba pertanian namun bervisi bisnis. Dari mulai budidaya mujair, cabe, jagung, hingga sapi. Usahanya secara umum terbilang berhasil, mata rantai dari hulu sampai hilir dipelajarinya hingga diketahuinya sampai seluk-beluknya. Puncaknya, beliau bisa memberdayakan masyarakat sekitar untuk turut dalam bisnis pertanian yang ia geluti.

Terakhir, Pak Ishak, Ia adalah seorang pegawai negeri biasa. Beliau memiliki lahan yang lumayan luas di area padat penduduk di pinggiran kota Bandung. Tiga buah rumah dan dua buah kolam dalam satu lingkup area membuatnya tampak seperti penginapan terpadu. Kendati berpenghasilan rata-rata, tapi berhasil menerapkan teknik pengalokasian uang, menabung, dan berinvestasi sekaligus. Hasilnya, beliau memiliki tempat tinggal yang tidak bisa dibilang kecil untuk ukuran pegawai negeri.

Tiga orang di atas adalah contoh bagaimana orang membangun asetnya masing-masing di luar tempat dia bekerja. Mereka berhasil menggunakan paruh waktu untuk membuat sumber pemasukan lain bagi kas mereka. Hasil pekerjaan mereka menjadi aset. Yakni, suatu hal yang bisa memasukan tambahan uang ke dalam dompet. Ada yang berupa intelektualitas, sistem, atau ataupun properti benda.

Aset identik dengan produktivitas. Hal ini dibangun dengan pikiran, waktu, dan tenaga. Poin lain tak kalah penting adalah visi ke depan. Visi untuk mendapat sesuatu yang lebih baik, baik itu harta, jabatan, atau nilai kemanfaatan bagi orang banyak. Perlu ilmu, tekad, disipin, dan kesabaran untuk menjalaninya.  Timbal baliknya bagi orang yang membangunnya adalah uang, atau kemudahan dalam hidup.

Lawan dari aset adalah liabilitas atau kewajiban. Yakni sesuatu yang menyebabkan uang keluar dari dompet kita. Seperti hanphone, kendaraan, ataupun rumah. Tidak ada yang salah dengan liabilitas, karena dalam hidup kita memang memerlukan beberapa hal yang berliabilitas. Tapi, persoalannya adalah bila liabilitas lebih besar daripada pendapatan yang diraih. Bukan untung yang diraih, tapi buntung karena utang. Maka dari itu, penting bagi kita untuk bisa merenung untuk membangun aset apa yang bisa kita bangun dalam hidup kita.

Uang Itu Untuk Diciptakan

Sumber gambar snagajob.com

Ini adalah lanjutan tulisan saya sebelumnya tentang ‘Untuk Apa Bekerja?.’ Poin tulisan itu adalah hidup itu bukan hanya untuk bekerja, tapi untuk beribadah dan wakil Tuhan di muka bumi dan kita bisa mengambil keputusan sendiri untuk hal itu dan berkreativitas untuk meraih apa yang diinginkan. Pertanyaan berikutnya, bagaimana kita bisa kreatif dan mengelola diri untuk bisa memenuhi semua hal itu. Sedangkan hampir seluruh waktu yang dimiliki tersita untuk banting tulang bekerja mencari penghasilan bulanan.

Perlu kita akui, bila selama ini kita memang bekerja untuk uang maka ada hal mendasar yang perlu diubah dalam paradigma kita. Cara meraih kaya dengan bekerja dan membarter waktu dengan harta kurang relevan dengan beban tanggungan itu. Perlu disingkirkan logika bila tak memanfaatkan waktu maka tak ada kerja atau bila tak bekerja maka tak ada uang. Terutama bagi kaum pekerja, karyawan, wiraswasta, bahkan profesional seperti doker, pengacara, artis, atau semacamnya. Di mana modal dan taruhan utama mereka adalah waktu.

Ada sebuah ide yang membangkitkan kesadaran kita bahwa tidak semua cara mendapat uang dengan mengorbankan waktu dan kehadiran. Uang atau kekayaan bisa diperoleh bila kita punya ‘mesin’-nya. Mesin berupa perusahaan atau harta yang diinvestasikan. Mesin itu tetap bekerja memberikan pemasukan bagi dompet kita meski kita tidur. Mesin itu tetap ada sampai kapanpun kita mau asal dirawat dengan baik. Bahkan kita bisa menambah mesin-mesin lain sebanyak yang kita inginkan.

Memang terkesan terlalu mengawang-ngawang bila didengar.  “Perusahaan? bagaimana kita bisa punya? menggaji diri sendiri saja repot!.” Bila kita sudah berkesimpulan repot ‘menggaji’ diri sendiri, maka satu akar persoalan sudah didapati. Tak mampu mengelola diri, hingga lebih besar pasak dari pada tiang. Pengeluaran mesti tidak lebih besar dari pemasukan, ini prinsipnya. Ini hal pertama yang harus diatasi. Sederhana, biasa, kuno, tapi belum tentu kita bisa melakukannya. Jangan malah nombok dengan berhutang hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bila seperti itu ada yang salah dengan pengelolaan uang kita.

Tak mungkin orang bisa menabung bila dia membelanjakan gajinya terlebih dahulu. Sisihkan dulu untuk nabung baru untuk yang lain. Itu hanya salah satu contoh. Bila kita ingin berinvestasi atau mendapat modal usaha maka sisihkan dulu untuk semua itu baru kebutuhan untuk gaya hidup kita. Malah jadikan apa yang kita miliki atau barang yang kita beli bernilai aset, yang bisa menyumbang pemasukan secara langsung atau tidak langsung bukan malah menggerogoti uang dalam dompet untuk keluar. Jeli apa yang kita beli, rumah itu sedianya tak bernilai aset karena butuh perawatan dan iuran. Kendaraan pun sama

Poin kedua mengelola keuangan adalah menciptakan beberapa pemasukan. Tak perlu muluk untuk langsung mendapat hasil yang besar dari pemasukan. Mulailah dari yang kecil. Kelola yang kecil itu dan sisihkan sebagian untuk modal hal sama berikutnya. Lakukan secara terus menerus, berulang, sampai semuanya ada ditangan kita. Bila telah mencapai itu, artinya kita bisa menciptakan cashflow yang sehat.

Masih banyak hal lain yang perlu dipelajari dan ditekuni. Perlajaran tentang menjalani kehidupan sebenarnya yang tidak dijelaskan di bangku sekolah mana pun. Tetapi setidaknya tulisan singkat ini bisa memberi kita sentilan agar melek ‘uang,’ tahu langkah untuk memperlakukannya, dan bergerak untuk mengubah arah tujuan.

Untuk Apa Bekerja?

Sumber Gambar 3.bp.blogspot.com

Apa sih yang sebenarnya dicari orang saat bekerja? Mengapa mereka sampai rela banting tulang, kerja pagi, siang, malam. Terkadang sabtu minggu pun lembur. Seakan sayang meninggalkan waktu tanpa bekerja. Dan semakin lama semakin merasa bahwa waktu itu memang berharga, waktu itu adalah uang. Bila tidak bekerja, berarti tak ada uang. Bila tak ada uang, berarti tak bisa memenuhi keperluan hidup. Bila tak bisa memenuhi keperluan hidup, taruhannya adalah jiwa kita sendiri.

Alasan di atas sepintas tampak masuk akal dan logis. Tapi disisi lain sangat tragis, akan akibat yang dihasilkannya. Bahkan bisa membuat diri kita sendiri ketakutan. Seakan dalam hidup ini hanya itu salah satunya jalan hidup, terbutakan dengan logika itu. Tak ada pilihan jadinya. Hingga orang sangat mengelu-elukan sebuah pekerjaan. Pekerjaan adalah segalanya. Tanpa pekerjaan seseorang tak ada artinya. Pekerjaan itu ciri status sosial di masyarakat. Akan tetapi, inilah yang dinamakan “dunia terbalik” yang tidak banyak disadari kebanyakan orang.

Agama menuntun pemeluknya untuk menjadi abdi Tuhan. Jika setiap hari kita disibukan dengan mencari nafkah, lantas bagaimana bisa mengabdi. Bagaimana kita bisa beribadah. Padahal umat manusia itu diciptakan sedianya untuk beribadah. Bahkan lebih dari itu, menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mengurusi bumi beserta isinya. Allah telah mengamahkan hal itu dengan menjadikan umat manusia sebagai abdi dan khalifah-Nya.

Selaku umat yang beragama, tak sepatutnya berfikir sangat matrealistik, positivistik, logistik, sampai lupa akan campur tangan Tuhan. Sejatinya, Tuhan yang memberi tugas kepada kita, Ia memberikan pula tuntunannya, Ia pun menjamin bekalnya. Bahkan terpampang dalam rukun iman yang ke-6. Jangankan seorang bagi seorang manusia, seekor nyamuk pun dijamin hidupnya, makan dan minumnya, oleh Tuhan.

Maka dari itu, bersikaplah adillah pada diri sendiri. Janganlah menjerumuskan diri kedalam kehancuran. Kita ini bukanlah sapi perah, yang terus diam dikandang, makan, dan diperah terus menerus untuk diambil air susunya. Kita ini bukanlah seonggok mesin, yang terus menderu, bekerja siang dan malam. Kita ini adalah manusia yang punya akal dan budaya. Kita adalah manusia yang diharuskan beribadah dan menjadi khalifah. Kita adalah manusia yang bisa mengurusi dirinya sendiri, memilih keinginannya sendiri. Bebas tapi bertanggung jawab. Kreatif tanpa harus destruktif. Bermain tanpa lupa belajar. Bekerja tanpa melupakan ibadah.

 

Semangat Kemenangan ’45

Sumber Gambar hipwee.com

Momen 17 Agustus identik dengan adanya perlombaan-perlombaan. Bagi anak-anak maupun dewasa. Di kota ataupun di desa. Meski diadakan secara sederhana dan alakadarnya, seremonial dengan cara itu selalu diupayakan untuk ada. Memang tidak wajib untuk selalu ada, tapi bila tak ada sangat hambar rasanya.

Lumrahnya sebuah perlombaan, selalu ada menang dan kalah. Menang dapat penghargaan kalah dapat pelajaran. Tak ada yang rugi sebenarnya. Walaupun tak ada orang yang selalu ingin kalah.

Dalam kehidupan nyata seharusnya sikap ini bisa dibawa. Semangat selalu ingin menang. Layaknya para pendahulu bangsa yang berjuang gigih melawan para penjajah. Di era sekarang, semangat kemajuan. Keinginan untuk mau menaikan martabat diri dan harkat keluarga. Dalam cakupan yang lebih luas, berkontribusi untuk ikut memajukan bangsa dan negara.

Saya pikir ini yang hilang dari kebanyakan orang. Mereka cenderung puas dengan hadiah yang kecil, sesaat, dan penghargaan lokal. Padahal bila seluruh warga bangsa bisa menyadari hal ini, saya yakin bangsa ini akan mudah berprestasi dan terbebas dari runyam ekonomi.