Ilmu Monitoring Pekerjaan

Di dalam ilmu manajemen erat kaitannya dengan pendelegasian. Karena manajemen adalah suatu teknik untuk mengatur sumber daya, apakah itu manusia, energi, materil, ataupun waktu, untuk mencapai terselesaikanya suatu tujuan. Renovasi rumah masih belum rampung, saat ini sedang dalam pengerjaan toilet bagian tengah dan dapur. Meski para tukang sudah diarahkan dan mandor proyek sudah mengiyakan, tapi setelah kemarin dicek masih ada beberapa hal yang tidak sesuai/miss. Sudut kamar mandi ternyata ada yang tidak lurus, pertemuan dinding bagian timur dan utara membuat sebuah cekungan. Saluran lubang air kotor dan bersih bak cuci piring tidak sekalian dipersiapkan, padahal temboknya sedang diplester.

Merasa beruntung sekali bisa mengingatkan para tukang untuk memperbaiki kekurangannya. Di paginya dan beberapa hari sebelumnya sudah membaca referensi tentang majemen, walaupun belum rampung. Buku tentang manajemen konstruksi. Menyadari tentang pentingnya perencanaan tujuan hasil pekerjaan, pengorganisasian orang yang terlibat, dan pengendalian kerja dan hasil kerja.

Iklan

Modal Pengusaha

Saran tentang apa hal yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha. Ada 5 Point yang diberikan :

  1. Keberanian, yakni berani mengambil tindakan secara nyata. Tidak banyak menunggu, tapi seketika terealisasi dan nyata. Tidak menunggu momen tapi menciptakannya.
  2. Pantang menyerah, yakni tidak banyak mengeluh dan banyak pertimbangan. Langkah demi langkah secara sabar dijalani. Maka perlu adanya perencanaan yang jelas dan matang tapi tidak rumit.
  3. Fokus, yakni membereskan setiap pekerjaan sampai beres. Tidak menunda-nunda dan mengulur-ulur waktu.
  4. Konsistensi, perjalanan menggapai suatu misi merupakan perjalanan panjang/maraton. Konsistensi mutlak dimiliki. Tidak gampang terombang-ambing dan tergoda persoalan kecil di tengah jalan, yang membuat dia berenang ke arah yang salah.
  5. Taqwa, sebagai seorang muslim, nilai ketaqwaan wajib dijaga. Karena nilai hidup yang paling utama di sisi-Nya adalah ketaqwaan. Oleh karena itu, landasan niat dari semua hal tidak boleh bertolak belakang dari ketaqwaan kepada-Nya.

Pikiran untuk membentuk kebiasaan

Siapakah diri kita?, apakah ingin disebut sebagai pemimpin, pengusaha, atau ahli ibadah?. Ingin dinilai seperti apa diri kita oleh orang lain atau bahkan diri kita sendiri?. Sesungguhnya diri kita itu dapat tercermin dari kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Itulah salah satu nilai yang sebenarnya dimiliki.

Dari mana munculnya sebuah kebiasaan?. Kebiasaan berasal dari lintasan-lintasan pikiran yang berada di kepala kita. Oleh sebab itu, kita harus menjaga lintasan pikiran agar sesuai dengan kebiasaan yang ingin kita raih. Jangan sampai isi dari pikiran kita berisi hal-hal yang tidak penting atau di luar tujuan. Buah dari sebuah pikiran adalah ide atau gagasan. Gagasan yang diyakini bisa menjadi tekad. Tekad yang kuat dapat menggerakan badan untuk bertindak. Tindakan yang dilakukan secara rutin adalah kebiasaan. Kebiasaan yang telah berlangsung secara lama membentuk karakter atau nilai diri.

Pikiran dapat membuat kita memiliki arah dan tujuan. Ibarat lampu sorot yang dinyalakan di kegelapan, apa yang ada disekitarnya dapat dilihat dan dikenali. Wawasan yang didapat dan tujuan yang jelas memperkuat keyakinan tujuan, di saat kita menjalani proses di setiap harinya.

Paradigma apa yang efektif digunakan dalam berpikir?. Menurut buku 7 Kebiasaan Efektif karya Stephen Covey, berpikir dari dalam ke luar. Yakni berfokus dahulu dari introspeksi diri sebelum menyalahkan orang lain atau lingkungan. Fokus untuk memperbesar lingkaran pengaruh diri, yakni kapasitas untuk menyelesaikan masalah-masalah internal, dibanding terlalu mengkhawatirkan faktor eksternal.

Bagaima teknis dalam berpikir ?. Bisa di mulai dari berpikir tentang apa yang seharusnya kita pikirkan, lalu berpikir bagaimana memikirkan apa yang kita pikirkan itu, dan berpikir bagaimana seharusnya cara kita berpikir. Ada pendekatan bagaimana kita berpikir, yakni berpikir secara hirakis dan dimensional. Cara berpikir secara hirarkis dimulai dari bagaimana dimulai dari bagaimana kita menyerap informasi, lalu menguraikan atau menganalisanya menjadi item-item mikroskopik, lalu bisa merekontruksi atau membangun kembali menjadi sebuah pemahaman atas informasi yang utuh, hingga bisa mencipta atau berinovasi hal baru yang belum pernah ada. Sedangkan untuk cara berfikir dimensional bisa didekati dari dua sisi, yakni stratgis taktis, dan mikro dan makro.

Namun, bila berpikir terhenti pada pikiran-pikiran saja maka lama kelamaan pikiran akan menguap. Sehingga ide hanya menjadi sebuah omong kosong. Mesti ada langkah nyata langsung setelah proses berpikir, untuk mengikat apa-apa yang kita pikirkan sebelum direalisasi lebih jauh menjadi tindakan-tindakan. Langkah tersebut adalah dengan membuat sebuah tulisan. Tulisan menjadi jembatan dari keduanya dan dengan dengan tulisan pikiran menjadi lebih tervisualisasi dan pikiran menjadi terlacak.

Pelajaran Mendasar dari Membaca dan Menulis

Kesibukan membuat kita lupa atas impian yang didamba. Rutinitas tak terasa satu per satu menghabiskan waktu pekerjaan yang telah dijadwal. Hingga adakalanya kita merasa hilang arah dan tak kunjung merasakan perkembangan. Kita bekerja, kita belajar tapi merasa tak mendapat apa-apa.

Sesekali mesti ada terobosan untuk mengatasi kebuntuan itu. Mencari perubahan untuk semangat dan optimisme baru. Salah satu opsi itu adalah dengan membaca dan menulis. Sesedehana pelajaran dasar yang dipelajari anak sekolah dasar. Murah tapi tidak semua orang bisa melakukannya.

Membaca itu tidak harus selalu dengan membeli bacaan. Kini, bacaan banyak betebaran di mana-mana. Dari dunia maya hingga buku-buku di rumah yang belum sempat dibaca. Atau, baca ulang saja buku kita itu, bisa saja dengan itu membuat kita lebih paham dan lebih mampu mempraktekannya.

Prinsip utama membaca adalah mencari bacaan sesuai dengan kebutuhan informasi yang ingin digali. Maka, tentukan visi itu dari awal. Biar tidak melebar ke sana-sini.

Polesan akhir dari ritual membaca ini adalah penulisan. Bisa berupa resume, malah kita bisa membuat kerangka untuk sebuah tulisan baru, sebuah formulasi untuk kebuntuan yang kita hadapi. Alhasil dua mafaat didapat; pertama, menjaga aktivitas baca tulis kita agar beres; kedua, berhasil membuat sebuah karya solutif untuk suatu masalah.

Ada satu lagi poin tambahan yang bisa menggandakan manfaat karya kita, yakni menyebar tulisan kita itu untuk dapat dinikmati orang lain dan diambil manfaatnya. Itu bisa membuat terjadinya dialog dan pengingat atas formulasi yang telah dibuat.

Berlatih Disiplin Lewat Ibadah Shalat

Sebuah keberhasilan erat terkait dengan suatu keteraturan. Hal-hal yang diperlukan untuk meraihnya dirinci, didefinisikan, dan dijadwalkan. Tak kalah penting, rencana dimplementasi berdasar rencana dan terkontrol secara reguler. Disiplin ialah salah satu faktor untuk meraih keteraturan. Efeknya bisa membuat pekerjaan tidak terlambat dilakukan, tidak tumpang tindih, atau bahkan terabaikan.

Perlu latihan untuk membuat disiplin menjadi bagian dari diri kita. Bagi seorang muslim, shalat adalah salah satu sarana yang bisa dimanfaatkan untuk memupuk sifat itu. Jadi shalat tak hanya dilakukan untuk menggugurkan kewajiban, tapi dilakukan sepenuh hati dan dimaknai sepenuhnya sehingga berefek positif dalam banyak hal. Contohnya, menjadi adil saat mengatur waktu atau bisa menempatkan suatu hal pada tempatnya.

Oleh karena itu, ibadah — dalam hal ini shalat — sangat layak bahkan penting untuk dilakukan, disadari nilai-nilai positif di dalamnya. Lakukan dengan rutin, sukarela, dan tidak sekali-kali meninggalkannya. Bahkan lakukan di masjid untuk berjamaah tepat waktu, untuk memperoleh hasil terbaik dari shalat. Perbaiki terus bacaan-bacaanya, tata caranya, dan tumaninah saat mengerjakannya.