Game Mendidik Bangsa ?!


Game adalah sarana efektif untuk mendoktrin informasi. Game memberikan informasi tanpa harus memaksa, justru gamers sendiri yang mencari game itu sendiri. Lebih ekstrim, gamers bisa menghabiskan berhari-hari untuk bermain hingga lupa dengan aktivitasnya di dunia nyata. Tidak heran untuk kesekian kalinya seorang gamers di Korea meninggal setelah bermain sekitar 2 hari tak henti-henti.

Disadari atau tidak pasti di dalam sebuah game tersisip sebuah misi pembuatnya. Misi itu bisa berdampak positif atau negatif, mengajarkan sejarah, teknologi, dan banyak hal lainnya. Kita ambil contoh, game Age of Empire (AoE) yang dibuat oleh Microsoft. Game tersebut bergenre Real Time Stategy (RTS) atau bisa dikatakan mirip permainan catur tapi setiap pemain bisa memainkan pion-pionnya tanpa harus menunggu pemain lawan selesain memindahkan pionnya. AoE berlatar berlakang abad pertengahan, ketika bangsa eropa akan masuk era industialisasi modern. Subjeknya adalah bangsa eropa barat, bangsa kepulauan malta. Ketika itu mereka gencar berekspansi ke berbagai belahan dunia untuk mencari dunia baru untuk beremigrasi. Di dalamnya terbagi menjadi beberapa stage yang menceritakan tahapan yang dilalui oleh mereka. Dimulai dari alasan mereka pergi ke belahan dunia baru, apa yang terjadi ketika mereka sampai di dunia baru, dan lika-liku mereka di dunia baru.

Disamping memberikan dampak positif, game dapat memberikan dampak negatif. Seperti diulas di atas seorang gamers dapat menghabiskan waktu hingga berhari-hari hingga melupakan aktivitas di dunia nyatanya. Hal ini menjadi kontra produktif yang bila dilakukan secara masal dapat menyebabkan penurunan produktifitas dan intelektualitas. Karena tidak banyak yang bisa didapatkan dari sebiah game selain kesenangan dan sedikit informasi wawasan yang di sisipkan di dalamnya.

Oleh Karena itu tantangan bagi para developer game negri ini untuk membuat game memberikan kontibusi produktif. Tidak menimbulkan candu tapi tetap menyenangkan. Memberikan banyak informasi yang berimbang, sesuai fakta, mendidik , dan membangun karakter bangsa. Lebih condong berkategori simulator dari pada game.

Pengembangan industri perangkat lunak memiliki masa depan cerah dibandingkan industri manufaktur. Hampir rata-rata industri manufaktur raksasa multinasional–yang berasal dari luar–di negeri ini hanya berperan sebagai pemain puzzle. Mereka tidak tahu mengapa dan bagaimana suatu komponen dibuat yang mereka tahu bangaimana komponen itu menjadi barang jadi. Relatif berbeda perangkat lunak, karena para developer perangkat lunak mau tidak mau mengetahui kode sumber suatu komponen berasal dan dibuat. Ini memberikan dampak positif bagi bangsa, yakni secara tidak langsung mendidik anak bangsa tahu membuat sebuah program. Dan bukan tidak mungkin anak bangsa mendirikan perusahaan sejenis di negri ini. (HM’11)

One Response

  1. Tidak dapat dihindari memang selalu ada sisi positif dan negatif dalam semua hal, termasuk juga game. Tetapi niat yg baik akan mendatangkan kebaikan. Saya percaya apabila terjalin kerjasama yg harmonis dari semua pihak dalam membangun sebuah industri (dalam hal ini industri game), tentunya akan mendatangkan kontribusi positif
    yang luar biasa pula bagi semua pihak.
    Mudah-mudahan.

    Artikel yang menarik. Keep updating dan salam kenal, hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: