Perlu Aset Untuk Hidup


feature_cover_assets_large
sumber gambar prospectmagazine.co.uk

Pak Marno adalah seorang dosen dan peneliti di Universitas tekemuka di Indonesia. Beliau selalu menuliskan hasil penelitiannya dalam bentuk jurnal, hingga tembus verifikasi internasional. Tidak Sedikit hasil karyanya yang dijadikan referensi penilitian lain atau pun sumber untuk tesis dan disentasi para mahasiswa. Saking produktifnya hampir ratusan tulisan dia hasilkan padahal batas minimal jumlah tulisan dan penelitian sebagai seorang dosen telah dipenuhinya. Tak heran di usianya yang masih relatif muda beliau banyak dikenal dibidangnya sampai-sampai sering diundang menjadi pembicara ahli di acara seminar atau simposium di berbagai daerah hingga mancanegara.

Lain dengan Pak Marno lain Pak Encep. Bapak ini berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah menengah di kota Bandung. Tak lazimnya sebagai seorang guru, di tempat tinggalnya di luar kota, beliau sering dan rajin melakukan uji coba pertanian namun bervisi bisnis. Dari mulai budidaya mujair, cabe, jagung, hingga sapi. Usahanya secara umum terbilang berhasil, mata rantai dari hulu sampai hilir dipelajarinya hingga diketahuinya sampai seluk-beluknya. Puncaknya, beliau bisa memberdayakan masyarakat sekitar untuk turut dalam bisnis pertanian yang ia geluti.

Terakhir, Pak Ishak, Ia adalah seorang pegawai negeri biasa. Beliau memiliki lahan yang lumayan luas di area padat penduduk di pinggiran kota Bandung. Tiga buah rumah dan dua buah kolam dalam satu lingkup area membuatnya tampak seperti penginapan terpadu. Kendati berpenghasilan rata-rata, tapi berhasil menerapkan teknik pengalokasian uang, menabung, dan berinvestasi sekaligus. Hasilnya, beliau memiliki tempat tinggal yang tidak bisa dibilang kecil untuk ukuran pegawai negeri.

Tiga orang di atas adalah contoh bagaimana orang membangun asetnya masing-masing di luar tempat dia bekerja. Mereka berhasil menggunakan paruh waktu untuk membuat sumber pemasukan lain bagi kas mereka. Hasil pekerjaan mereka menjadi aset. Yakni, suatu hal yang bisa memasukan tambahan uang ke dalam dompet. Ada yang berupa intelektualitas, sistem, atau ataupun properti benda.

Aset identik dengan produktivitas. Hal ini dibangun dengan pikiran, waktu, dan tenaga. Poin lain tak kalah penting adalah visi ke depan. Visi untuk mendapat sesuatu yang lebih baik, baik itu harta, jabatan, atau nilai kemanfaatan bagi orang banyak. Perlu ilmu, tekad, disipin, dan kesabaran untuk menjalaninya.  Timbal baliknya bagi orang yang membangunnya adalah uang, atau kemudahan dalam hidup.

Lawan dari aset adalah liabilitas atau kewajiban. Yakni sesuatu yang menyebabkan uang keluar dari dompet kita. Seperti hanphone, kendaraan, ataupun rumah. Tidak ada yang salah dengan liabilitas, karena dalam hidup kita memang memerlukan beberapa hal yang berliabilitas. Tapi, persoalannya adalah bila liabilitas lebih besar daripada pendapatan yang diraih. Bukan untung yang diraih, tapi buntung karena utang. Maka dari itu, penting bagi kita untuk bisa merenung untuk membangun aset apa yang bisa kita bangun dalam hidup kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s