Mengapa di Daerah Kita Kerap Terjadi Bencana Alam


Pada pertengahan pertengahan bulan november hinggal awal bulan desember, beberapa fasilitas jalan Kota Bandung mengalami kerusakan. Di antaranya, amblasnya Jalan Pajajaran dan ambrolnya tembok penahan tebing di Jalan Siliwangi. Malah, Jalan Pajajaran amblas dua kali. Pertama amblas membentuk lubang dengan ukuran diameter 6 meter, sehingga aliran deras Sungai Citepus di bawahnya terlihat. Lalu beberapa hari berselang jalan di samping lokasi jalan telah amblas tadi amblas selebar 1,5 meter dengan kedalaman 7 meter. Hal tersebut disinyalir disebabkan infrasuktur jalan sudah tua. Jalan tidak mampu menahan beban jalan yang kian berat. Aliran sungai citepus pun menggerus memperparah kerusakan gorong-gorong bagian bawah jalan. Sementara itu, ambrolnya tembok Jalan Siliwangi yang mengakibatkan longsor, terjadi akibat saluran drainase yang ada di bawah tembok tersebut tidak berfungsi dengan baik. Air menggenang di bawah tembok tanpa mengalir.

Peristiwa yang disebutkan di atas mutlak kelalaian manusia. Pejabat kota terkait yang bertanggung jawab atas semua ini tidak memperhitungkan usia konstruksi jalan, pemeliharaannya, termasuk izin-izin pendirian bangunan di Bandung utara. Padahal kian hari kota Bandung kian padat penduduk. Banyak orang -orang yang datang ke Bandung. Ada yang datang mencari pekerjaan, berbisnis, menimba ilmu, maupun berwisata terutama wisata belanja. Kontan, Bandung diserbu orang-orang dari segala penjuru, dari daerah-daerah maupun kota besar.

Pengerusakan lingkungan pun memberi andil semua ini. Bandung utara yang datarannya lebih tinggi dari yang lainnya dan merupakan tempat resapan air tidak berfungsi maksimal. Lembang, Ledeng, Setia Budi, Dago, Cigadung, Sadang Serang, Sekeloa sudah jenuh disesaki rumah-rumah penduduk. Lahan hijau di sana banyak dibuka dan dibangun rumah-rumah tanpa memperhitungkan dampaknya pada lingkungan. Tentu saja air hujan dari sana akan mengalir membanjiri daerah yang lebih rendah. Tidak heran di daerah kita sering terjadi banjir bahkan di daerah Bandung utara sekalipun.

Apa yang dilakukan kita akan dirasakan kembali oleh kita. Allah telah mengingatkan dalam Al-Quran surat Ar-Rum ayat 41.  “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Hendaknya disadari oleh umat manusia dan harus segera menghentikan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan timbulnya kerusakan di daratan dan di lautan dan menggantinya dengan perbuatan baik dan bermanfaat untuk kelestarian alam. Darat dan laut disebut sebagai tempat terjadinya kerusakan (fasad) itu. Ini dapat berarti daratan dan lautan menjadi arena kerusakan, yang hasilnya keseimbangan lingkungan menjadi kacau. Prof Quraish Shihab menyebutnya sebagai kerusakan lingkungan.

Padahal manusia telah diberikan kepercayaan oleh Allah atas semua ini. Di dalam Al Quran Allah berfirman  “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'” Oleh sebab itu, sepatutnya kita menyadari apa yang harus dilakukan diri kita. Kita bertanggung jawab atas apa yang dilakukan kita  di bumi ini. Sepatutnya kita memberikan kontribusi konstruktif dan ramah pada lingkungan di sekitar kita dalam memegang amanah Allah.

Perubahan tidak akan muncul begitu saja tanpa usaha. Kita mesti bertidak atau berpartisipasi mewujudkan perubahan itu. Dimulai dari diri sendiri lalu lingkungan di sekitar kita. Dengan cara, tidak membuang sampah di kali, tidak mengganggu daerah aliran kali (DAK) dengan membangun bangunan di sisi kanan, kiri, apalagi di atasnya. Membuat dan menjaga parit kecil di depan setiap rumah supaya air dapat mengalir ke kali dan tidak merusak jalan. Tidak menutup seluruh pekarangn rumah dengan semen sehingga air hujan tidak terserap tanah. Aktif dalam kerja bakti lingkungan. Serta menyediakan tempat sampah di rumah maupun di lingkungan RT kita masing-masing. (HM’10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: