Budaya Sopan dan Toleransi Negeri Tergerus Globalisasi


Pemerintah berencana akan mengurangi subsidi BBM bagi mobil-mobil berplat hitam pada bulan maret 2011. Kebijakan ini pasti akan berdampak pada kenaikan harga BBM. Salah satu alasannya, subsidi BBM selama ini dianggap membebani APBN. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi roda ekonomi nasional terutama masyarakat kecil. Pasalnya, naiknya harga BBM akan berdampak pada harga-harga bahan pokok lainnya. Sedangkan SPBU dan perusahaan minyak asing akan diuntungkan dalam jangka panjang.

Tidak ada yang salah dengan kebijakan yang diambil pemerintah. Kebijakan diambil berdasarkan pandangan dan pemikiran mereka dengan tujuan untuk menyelamatkan negara dari kebangkrutan. Dan ujung-ujungnya warga negaranya terselamatkan dari krisis. Benar atau salah kebijakan ini adalah subjektif. Bila kita telusuri oleh siapa mereka dipilih, kita harus menyadari bahwa mereka adalah refleksi dari kebanyakan orang di negeri kita. Presiden, Gubernur, Walikota, anggota DPR RI, ataupun DPRD dipilih secara langsung oleh kita. Bila si A dipandang pantas oleh kebanyakan orang di negeri kita maka dialah yang akan diangkat sebagai pemimpin. Bila si B dipandang tidak pantas oleh kebanyakan orang tidak banyak yang dia lakukan untuk bisa menjadi pemimpin, meskipun pada dasarnya dia orang yang kredible dan sangat berpengalaman dalam memimpin.

Apa yang sebenarnya yang menggiring opini masyarakat pada umumnya?. Ketiadaan edukasi sopan santun dan saling menghormati adalah salah satu faktor penyebabnya. Keteraturan pada dasarnya akan menggiring kondisi sosial masyarakat pada taraf hidup yang lebih berbudaya. Kesopanan dan saling menghormat adalah mdal dasar terciptanya keteraturan dan ketertiban. Ketertiban akan menjauhkan kita dari krisis. Krisis disebabkan oleh kebijakan-kebijakan keliru. Sedangkan masyarakat berbudaya tidak akan banyak salah mengambil keputusan. Keputusan yang tepat dari setiap warga adalah memilih pemimpin yang tepat bagi mereka sendiri.

Kesopanan dan tolerasi adalah hal yang universal. Hampir semua agama di muka bumi ini mengajarkan hal itu. Bahkan kata agama sendiri memiliki arti tidak kacau. Bila pada hakikatnya semua agama berusaha memberikan kebaikan bagi manusia pada umumnya, setidaknya di kehidupan dunia, maka seharusnya ketertiban, kedamaian, kesejahteraan adalah hal yang harus kita rasakan saat ini. Kenyataannya kurang atau mungkin tidak, berarti ada sesuatu yang kurang dengan implementasi agama.  Dalam pandangan saya, subjek agama dalam hal ini adalah para ahli agama di agama masing-masing adalah faktor penyebabnya. Yakni orang yang menjadi sumber rujukan atau orang-orang yang paham dan bersimpati untuk mengajak orang-orang yang seagama dengannya melakukan apa yang harus dilakukan atau apa yang harus dihindari sesuai dengan isi ajarannya.

Apa yang salah dengan para ahli dan paham agama?. Besar kemungkinan jumlah  mereka terlalu kecil di tengah banyaknya orang-orang yang mengklaim dirinya beragama. Bisa jadi karena orang-orang memisahkan agamanya dalam kehidupan sehari-harinya sehingga menganggap tabu orang yang tahu agama atau bahkan paham agama sekalipun. Sehingga terlalu sedikit orang-orang yang dapat diingatkan dan diseru untuk beragama dengan baik. Para ahli atau pun orang-orang yang paham agama itu sendiri pada hakikatnya dihasilkan dari masyarakat itu sendiri. Opini!, adalah hal yang beredar di antara mereka, menjadi latar belakang banyak atau sedikit dilahirkannya atau orang-orang yang paham agama di antara mereka. Jika para ahli tidak dapat dilahirkan, sangat dimungkinkan banyak opini dari luar yang mempengaruhi opini masyarakat pada umumnya. Karena opini yang diciptakan dari dalam tidak mungkin bertentangan dengan pandangan masyarakat itu pada umumnya. Tidak heran sebenarnya bila kita melihat hal itu terjadi, terlebih di era globalisasi sekarang ini. Televisi, internet, atau media lainnya telah datang membawa informasi membanjiri negeri kita dengan tiada henti-hentinya setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Lebih ironis informasi tersebut datang tanpa saringan yang ketat. Konsekuensinya, cepat atau lambat opini masyarakat luas tergiring pada informasi yang lebih banyak beredar dan lebih sering diulas. Lama kelamaan kebudayaan negeri tergerus arus globalisasi. Krisis tidak dapat dielakan. Kita bisa menjadi korban bila kita tidak membentengi diri dari informasi sejak dini. (HM’11)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: