Uang Itu Untuk Diciptakan


Sumber gambar snagajob.com

Ini adalah lanjutan tulisan saya sebelumnya tentang ‘Untuk Apa Bekerja?.’ Poin tulisan itu adalah hidup itu bukan hanya untuk bekerja, tapi untuk beribadah dan wakil Tuhan di muka bumi dan kita bisa mengambil keputusan sendiri untuk hal itu dan berkreativitas untuk meraih apa yang diinginkan. Pertanyaan berikutnya, bagaimana kita bisa kreatif dan mengelola diri untuk bisa memenuhi semua hal itu. Sedangkan hampir seluruh waktu yang dimiliki tersita untuk banting tulang bekerja mencari penghasilan bulanan.

Perlu kita akui, bila selama ini kita memang bekerja untuk uang maka ada hal mendasar yang perlu diubah dalam paradigma kita. Cara meraih kaya dengan bekerja dan membarter waktu dengan harta kurang relevan dengan beban tanggungan itu. Perlu disingkirkan logika bila tak memanfaatkan waktu maka tak ada kerja atau bila tak bekerja maka tak ada uang. Terutama bagi kaum pekerja, karyawan, wiraswasta, bahkan profesional seperti doker, pengacara, artis, atau semacamnya. Di mana modal dan taruhan utama mereka adalah waktu.

Ada sebuah ide yang membangkitkan kesadaran kita bahwa tidak semua cara mendapat uang dengan mengorbankan waktu dan kehadiran. Uang atau kekayaan bisa diperoleh bila kita punya ‘mesin’-nya. Mesin berupa perusahaan atau harta yang diinvestasikan. Mesin itu tetap bekerja memberikan pemasukan bagi dompet kita meski kita tidur. Mesin itu tetap ada sampai kapanpun kita mau asal dirawat dengan baik. Bahkan kita bisa menambah mesin-mesin lain sebanyak yang kita inginkan.

Memang terkesan terlalu mengawang-ngawang bila didengar.  “Perusahaan? bagaimana kita bisa punya? menggaji diri sendiri saja repot!.” Bila kita sudah berkesimpulan repot ‘menggaji’ diri sendiri, maka satu akar persoalan sudah didapati. Tak mampu mengelola diri, hingga lebih besar pasak dari pada tiang. Pengeluaran mesti tidak lebih besar dari pemasukan, ini prinsipnya. Ini hal pertama yang harus diatasi. Sederhana, biasa, kuno, tapi belum tentu kita bisa melakukannya. Jangan malah nombok dengan berhutang hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bila seperti itu ada yang salah dengan pengelolaan uang kita.

Tak mungkin orang bisa menabung bila dia membelanjakan gajinya terlebih dahulu. Sisihkan dulu untuk nabung baru untuk yang lain. Itu hanya salah satu contoh. Bila kita ingin berinvestasi atau mendapat modal usaha maka sisihkan dulu untuk semua itu baru kebutuhan untuk gaya hidup kita. Malah jadikan apa yang kita miliki atau barang yang kita beli bernilai aset, yang bisa menyumbang pemasukan secara langsung atau tidak langsung bukan malah menggerogoti uang dalam dompet untuk keluar. Jeli apa yang kita beli, rumah itu sedianya tak bernilai aset karena butuh perawatan dan iuran. Kendaraan pun sama

Poin kedua mengelola keuangan adalah menciptakan beberapa pemasukan. Tak perlu muluk untuk langsung mendapat hasil yang besar dari pemasukan. Mulailah dari yang kecil. Kelola yang kecil itu dan sisihkan sebagian untuk modal hal sama berikutnya. Lakukan secara terus menerus, berulang, sampai semuanya ada ditangan kita. Bila telah mencapai itu, artinya kita bisa menciptakan cashflow yang sehat.

Masih banyak hal lain yang perlu dipelajari dan ditekuni. Perlajaran tentang menjalani kehidupan sebenarnya yang tidak dijelaskan di bangku sekolah mana pun. Tetapi setidaknya tulisan singkat ini bisa memberi kita sentilan agar melek ‘uang,’ tahu langkah untuk memperlakukannya, dan bergerak untuk mengubah arah tujuan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s