Modal Jadi Pengendara di Indonesia

Sumber Gambar kabaroto.com

Seorang pengendara kadang seperti kerasukan. Perilakuya berubah 180 derajat. Biasanya terlihat pendiam dan pemalu, menjadi liar seperti preman terminal. Saling serobot jalan, tak mau mengalah memberi jalan kendaraan yang lain. Tak sabar mengantri, tak heran menjadi biang kerok kemacetan. Termasuk menjadikan jalanan seolah sirkut balap.

Apa Mungkin lantaran terlalu banyak menonton film. Sampai pengaruhnya secara tidak sadar terbawa ke kehidupan nyata. Apalagi bagi anak di bawah umur ataupun ABG. Yang masih belum stabil emosi,  gampang terpengaruhi, dan mudah terbawa arus.

Ada kepribadian lain dalam dirinya. Tampak aneh dan tak diduga tapi mungkin-mungkin saja. Dia sembunyi di balik kendaraannya. Helm, kaca mobil, dijadikannya sebagai topeng. Walau pada kenyataannya, memang jarang orang yang dikenal ditemui di jalan raya. Semuanya orang asing.

Ibarat kendaraan robot pat-labor, mobil dan motor bak bentuk nyatanya saat ini. Orang menjadi kuat sekuat kendaraan yang dikendarainya. Cepat secepat kendaraan yang dikemudikannya. Sekaligus menjadi tameng dan senjata baginya. Eits.. ingat!, jalanan umum bukanlah medan peperangan. Jalan itu tak lebih dari sarana bepergian menuju suatu tempat. Banyak orang lupa hal ini.

Tak cukup jago berkendara saja. Justru, modal utama yang harus ada adalah kedewasaan. Bisa berpikir logis, memiliki emosi stabil, dan berwawasan lingkungan. Tahu arti rambu-rambu lalu lintas termasuk kondisi dan situasi medan jalanan. Sehingga, menghargai sesama pengguna jalan, menjaga ketertiban umum, dan keselamatan bersama. Jangan sampai perilaku kita membahayakan orang lain. Itu mengapa syarat pembuatan surat ijin mengemudi (SIM mengharuskan seseorang harus berusia minimal 17 tahun, atau 18 tahun untuk mobil.

Berikutnya adalah bisa memaklumi sikap realitas pengendara pada umumnya di negri kita. Tidak ada salahnya mengalah dari pengandara lain yang arogan. Tidak malah terpancing meladeninya atau ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Seperti slogan yang sering disosialisasikan polisi, “jadilah pelopor keamanan berkendara.” Keselamatan itu nomor satu. Kenali rambu-rambu lalu lintas dan mematuhinya.

Terakhir, manjemen waktu. Kondisi mepet dan kepepet waktu bisa membuat orang panik. Tidak peduli orang dewasa atau anak-anak. Tak peduli berpendidikan tinggi atau tidak. Maka dari itu, perencanaan adalah hal yang penting dan mendesak setiap saat. Gagal merencanakan berarti berencana untuk gagal. Timing adalah kunci keberhasilan.

Bila setiap orang telah bisa memaknai dan mengimplementasikan keempat hal di atas, berarti dia telah bisa berlaku adil terhadap dirinya. Bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Disadari atau tidak dapat berefek pada lingkungan sekitarnya. Lalu lintas akan jadi tertib. Sangat layak ditularkan pada orang lain. Serta bisa berdampak pada aktivitas hal yang lain. Tertib dan disiplin dalam melakukan semua hal. Poin pentingnya, jika belum bisa bermanfaat bagi orang lain maka janganlah jadi biang masalah orang lain. Apalagi bila sampai mencelakakan orang lain.

Iklan

Hitam dan Putih

Kebenaran yang logis dan sangat masuk akal akan mempengaruhi pola pikir kita. Bila kita diberikan kemampuan untuk memahami kebenaran tersebut dan keberanian untuk melakukan teori kebenaran itu maka bisa dikata kita adalah seorang idealis. Banyak ajaran ataupun teori yang muncul dari jaman Nabi Musa atau sebelum itu hingga saat ini. Seakan tak akan ada habisnya ide yang dikeluarkan seorang manusia. Ide tersebut berkembang dan terus berkembang mengikuti perlubahan jaman. Walau tak sedikit ide yang dikeluarkannya saat ini mengulang apa yang telah dilakukan orang-orang terdahulu. Ide banyak terdapat dalam agama. Apalagi agama yang memang diberikan oleh Tuhan untuk dianut semua manusia. Ide yang menjadi ajaran terbut adalah agama. Dan orang yang bertekad untuk mengikuti, mempercayai, dan mengamalkannya adalah orang beriman.  Ketinggian idealisme orang yang beriman berkaitan erat dengan seberapa kuat dia mengamalkan ajaran agama yang diyakininya selain hanya mempercayainya.

Di dalam ajaran agama dikatakan, janganlah kamu mengaku sebagai orang beriman sebelum Kami mengujimu dengan cobaan. Cobaan itu bisa diberikan dalam dua bentuk, kenikmatan ataupun musibah. Orang lebih memahami bahwa cobaan itu sedang didapatinya ketikan dia sedang mengalami musibah, yang serupa dengan kesulitan, kesakitan, penganiayaan, penindasan, dan sebagainya. Padahal kenikmatan pun sejatinya adalah sebuah cobaan, seperti harta, kepintaran , kedudukan, dan sebagainya. Dan sesungguhnya apapun yang dia dapati ketika hidup, dia senantiasa menghadapi cobaan. Hidup ini penuh dengan persoalan. Namun kita diciptakan untuk dapat menjawab persoalan-persoalan itu. Maka renungilah hakikat dari kesibukan kehidupan kita sehari-hari. Apa yang kita kejar, apa yang kita hindar. Siapa yang kita harap, apa yang kita ingin ungkap, apa yang ingin kita serap, dengan cara apa kita garap. Sungguh menakjubkan urusan seorang beriman. Sesungguhnya setiap urusannya akan mendatangkan kebaikan, apabila dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur, dan syukur itu adalah kebaikan untuknya. Bila ia mendapatkan musibah, dia bersabar dan sabar itu adalah kebaikan untuknya. Hal yang demikian itu tidaklah diberikan kecuali untuk orang yang beriman.

Hidup ini tidak bisa terlepas dari Tuhan. Ia yang Maha Pengasih mengkaruniai kita dengan rezki dan kesehatan sehingga kita dapat beraktivitas sehari-hari. Ia yang Maha Melihat, senantia mengatahui tindak tanduk kita bahkan bisikan-bisikan dalam hati. Ia yang Maha Bijaksana, mengetahui apa yang terbaik yang diberikanNya kepada hamba-hambanya. Setiap detik amalan kita dicatat. Setiap pekan catatan kita diangkat. Dan orang yang memperoleh keselamatan, kebahagiaan, dan kenikmatan adalah orang yang menerima catatan di tangan kanan dan ridlaNya. Semoga Tuhan senantiasa menunjuki kita dijalanNya yang lurus.

Kapan kita merasa dekat dengan Tuhan. Kalaulah kita terlalu disibukan dengan aktivitas harian, kecil kemungkinan kita untuk ingat. Masih mending bagi mereka yang menjalankan ibadah 5 kali sehari, walau siapa menjami dalam ibadahnya mereka mengingatNya dengan sebenarNya. Kedekatan yang sangat dekat denganNya bisa didapatkan ketika sepertiga malam terakhir. Tapi apa dikata ia terlalu nyenyak untuk tidur dan bersimpuh di hadapannya. Maka bila dia seorang yang beriman, dia bisa merasakan kehadiranNya ketiak ia dihadapkan dengan maksiat. Pertentangan batin bergejolak di dadanya. Antara keinginan diri dan idealismenya. Pertentangan itu semakin berkecamuk. Semakin lama bisa membuat ia pragmatis dan memilih kenikmatan sesaat. Pada akhirnya, na’udzubillah, ia menjadi resisten akan hal itu.

Maka hapuslah keburukan-keburukan dengan melakukan kebaikan-kebaikan. Kembalilah kepada Tuhan, ingatlah akan hakikat segalanya, ingatlah akan idealisme yang dijunjung tinggi. Minta maaflah kepada Tuhan, bilamana kemu menelan ludah kamu sendiri, sedangkan kamu sungguh tidak ingin sama sekali melakukannya. Bulatkan tekad kuatkan tujuan bahwa ampunan dan Ia yang kita harap. Takutlah akan ancamanNya. Takutlah akan siksaNya. Padahal Ia pun Maha Pengasih dan Penyayang. Ajaklah orang lain itu untuk bersama-sama denganmu untuk mengkoreksi diri. Jadikan ia patner untuk bekerjasama. Ajaklah merenung akan tujuan dan hakikat dari segalanya. Sesungguhnya Ia Maha Penerima Ampun.

Jadilah manusia sabar. Kesabaran itu akan berbuah manis. Lakukan setiap hari evaluasi diri. Apa yang telah kita lakukan, apa kita melakukannya lagi, apa telah ada peningkatan diri dari hari-hari sebelumnya. Sesungguhnya orang-orang yang tidak merugi di antaranya adalah orang yang saling mewasiati dalam hal kebenaran dan kesabaran.

Carilah solusi dari Tuhan. Karena Ia tahu apa yang dibutuhkan oleh hambanya. Lihatlah orang-orang miskin bila kita kaya, lihatlah para ‘alim bila kita merasa shaleh. Ajaklah menikah bila calonmu sudah ada. Kembalikan semua wewenang yang dimilikimu pada Tuhanmu, berikan menfaat pada pengikut dan lingkunganmu, karena sesungguhnya itu adalah amanah yang dipercayakanNya padamu.

Kaum Moderat

Siapakah yang disebut sebagai orang moderat. Apakah mereka orang yang sekuler termasuk orang moderat. Apakah mereka yang cukup mencantumkan Islam di kartu identitas sebagai agama mereka disebut sebagai orang modetar. Apakah mereka yang cukup shalat ketika mereka tidak sibuk disebut sebagai moderat. Yakni, orang yang cukup menunjukkan identitas islam mereka secara formal namun, mungkin, ia tidak terlalu peduli dengan pekerjaan ibadah mereka. Mereka islam, tetapi mereka mengakui shalat mereka tidak selalu penuh. Mencatut ayat-ayat qur’an untuk kepentingan retorika mereka, tanpa tahu makna sebenarnya dari ayat tersebut ke mana. Orang-orang, yang menurut pandangan dunia, professional, ahli, berwawasan, visioner. Padahal visi mereka hanya sebatas ukuran kenikmatan dunia belaka.

Pandangan itu adalah pandangan zaman kini. Orang-orang yang sering datang ke masjid atau mushalla, orang-orang yang mengerjakan shalat tepat pada waktunya, orang-orang yang paling tidak fasih membaca Al-Quran, orang-orang yang mencintai masjid, tanpa menistakan uang dan harta, profesi dan kedudukan, pergaulan dan jaringan, malah dipandang sebagai orang kanan. Disebut sufi lah, ustadz lah. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang setiap harinya tinggal di kuil atau gua atau hutan atau di tempat yang mereka anggap sebagai tempat peribadahan lainnya. Orang-orang yang tidak memperdulikan kehidupan duniawi. Jangankan mengurusi orang-lain, dirinya saja tidak ia urusi. Baju seadanya, makanan alakadarnya, bergaul tidak pernah. Pertapaan adalah kegiatan mereka sehari-hari, makanan cukuplah dari orang lain yang rela memberinya. Mengaku bersahaja padahal mereka orang yang patut diberikan ketersahajaan oleh orang-orang yang bersahaja. Disebut apakah mereka, mungkinkah ektra kanan.

Dan orang-orang yang sama sekali tidak menyentuh agama, orang-orang yang menghidupkan malam di pub-pub. Bermain-main dengan orang yang diharamkan. Minum dan makan sekehendaknya. Atau orang-orang yang rajin menghadiri konser panggung musik, mengecat rambut tidak sesuai dengan fitrah, duduk-duduk dipinggir jalan, mengeraskan suara kendaraanya. Atau mereka yang jelas-jelas mengakui setan berada dalam hatinya, mengagung-agungkannya, maniak, hingga tanda-tandanya tak malu mereka perlihatkan kepada teman-temannya. Ucapan, tindakan, dan bagaimana mereka memperlakukan orang lain tidak ia lakukan tidak berdasarkan nalar akal dan nurani hati.

Sesungguhnya Allah berfirman di dalam Al-Quran, “Dan demikian (pula) kami telah jadikan kamu (Umat Islam), ummatan washatan.” Ummatan washatan di sebut pula umat yang adil dan pilihan. Inilah sesungguhnya orang-orang yang berada di tengah orang dan terpillih. Inilah orang-orang moderat sesungguhnya. Karena mereka adalah orang-orang yang menjadi saksi atas perbuatan manusia, yang menyimpang dari kebenaran di dunia dan akhirat. Dan merekapun sesungguhnya disaksikan oleh Rasulnya. Mereka adalah orang-orang yang menghadapkan wajahnya kepada Tuhan alam semesta. Mereka mempercayainya dalam hati dan membuktikannya dengan ucapan dan perbuatan, apakah itu shalat, zakat, dan lainnya. Duniawi tidak ia nistakan, logikanya jelas karena mereka pun hidup di dunia terlebih Tuhan telah membuat aturannya. Bahkan bila diteliti ibadah-ibadah mahdlah seperti shalat, zakat, sarat pula dengan hubungan duniawi. Karena mereka lakukan semua itu sebagai konsekuensi bila dia bersaksi atas Tuhan dan RasulNya. Wallahu ‘Alam. (usr0-11)

Budaya Sopan dan Toleransi Negeri Tergerus Globalisasi

Pemerintah berencana akan mengurangi subsidi BBM bagi mobil-mobil berplat hitam pada bulan maret 2011. Kebijakan ini pasti akan berdampak pada kenaikan harga BBM. Salah satu alasannya, subsidi BBM selama ini dianggap membebani APBN. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi roda ekonomi nasional terutama masyarakat kecil. Pasalnya, naiknya harga BBM akan berdampak pada harga-harga bahan pokok lainnya. Sedangkan SPBU dan perusahaan minyak asing akan diuntungkan dalam jangka panjang.

Tidak ada yang salah dengan kebijakan yang diambil pemerintah. Kebijakan diambil berdasarkan pandangan dan pemikiran mereka dengan tujuan untuk menyelamatkan negara dari kebangkrutan. Dan ujung-ujungnya warga negaranya terselamatkan dari krisis. Benar atau salah kebijakan ini adalah subjektif. Bila kita telusuri oleh siapa mereka dipilih, kita harus menyadari bahwa mereka adalah refleksi dari kebanyakan orang di negeri kita. Presiden, Gubernur, Walikota, anggota DPR RI, ataupun DPRD dipilih secara langsung oleh kita. Bila si A dipandang pantas oleh kebanyakan orang di negeri kita maka dialah yang akan diangkat sebagai pemimpin. Bila si B dipandang tidak pantas oleh kebanyakan orang tidak banyak yang dia lakukan untuk bisa menjadi pemimpin, meskipun pada dasarnya dia orang yang kredible dan sangat berpengalaman dalam memimpin.

Apa yang sebenarnya yang menggiring opini masyarakat pada umumnya?. Ketiadaan edukasi sopan santun dan saling menghormati adalah salah satu faktor penyebabnya. Keteraturan pada dasarnya akan menggiring kondisi sosial masyarakat pada taraf hidup yang lebih berbudaya. Kesopanan dan saling menghormat adalah mdal dasar terciptanya keteraturan dan ketertiban. Ketertiban akan menjauhkan kita dari krisis. Krisis disebabkan oleh kebijakan-kebijakan keliru. Sedangkan masyarakat berbudaya tidak akan banyak salah mengambil keputusan. Keputusan yang tepat dari setiap warga adalah memilih pemimpin yang tepat bagi mereka sendiri.

Kesopanan dan tolerasi adalah hal yang universal. Hampir semua agama di muka bumi ini mengajarkan hal itu. Bahkan kata agama sendiri memiliki arti tidak kacau. Bila pada hakikatnya semua agama berusaha memberikan kebaikan bagi manusia pada umumnya, setidaknya di kehidupan dunia, maka seharusnya ketertiban, kedamaian, kesejahteraan adalah hal yang harus kita rasakan saat ini. Kenyataannya kurang atau mungkin tidak, berarti ada sesuatu yang kurang dengan implementasi agama.  Dalam pandangan saya, subjek agama dalam hal ini adalah para ahli agama di agama masing-masing adalah faktor penyebabnya. Yakni orang yang menjadi sumber rujukan atau orang-orang yang paham dan bersimpati untuk mengajak orang-orang yang seagama dengannya melakukan apa yang harus dilakukan atau apa yang harus dihindari sesuai dengan isi ajarannya.

Apa yang salah dengan para ahli dan paham agama?. Besar kemungkinan jumlah  mereka terlalu kecil di tengah banyaknya orang-orang yang mengklaim dirinya beragama. Bisa jadi karena orang-orang memisahkan agamanya dalam kehidupan sehari-harinya sehingga menganggap tabu orang yang tahu agama atau bahkan paham agama sekalipun. Sehingga terlalu sedikit orang-orang yang dapat diingatkan dan diseru untuk beragama dengan baik. Para ahli atau pun orang-orang yang paham agama itu sendiri pada hakikatnya dihasilkan dari masyarakat itu sendiri. Opini!, adalah hal yang beredar di antara mereka, menjadi latar belakang banyak atau sedikit dilahirkannya atau orang-orang yang paham agama di antara mereka. Jika para ahli tidak dapat dilahirkan, sangat dimungkinkan banyak opini dari luar yang mempengaruhi opini masyarakat pada umumnya. Karena opini yang diciptakan dari dalam tidak mungkin bertentangan dengan pandangan masyarakat itu pada umumnya. Tidak heran sebenarnya bila kita melihat hal itu terjadi, terlebih di era globalisasi sekarang ini. Televisi, internet, atau media lainnya telah datang membawa informasi membanjiri negeri kita dengan tiada henti-hentinya setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Lebih ironis informasi tersebut datang tanpa saringan yang ketat. Konsekuensinya, cepat atau lambat opini masyarakat luas tergiring pada informasi yang lebih banyak beredar dan lebih sering diulas. Lama kelamaan kebudayaan negeri tergerus arus globalisasi. Krisis tidak dapat dielakan. Kita bisa menjadi korban bila kita tidak membentengi diri dari informasi sejak dini. (HM’11)

Hikmah dari Pak Yusuf Kalla

yusuf_kallaBapak Mantan Wapres Yusuf Kalla sangat baik dalam memberikan contoh bagaimana memperlakukan tahta kekuasaan di negeri ini saat ini. Ini akan menjadi sejarah baru karena selama ini posisi di lingkupan pemegang kekuasaan identik dengan sesuatu yang “sakral”, baju formil berdasi, protokoler, dll.. Beliau pun berhasil mendobrak istilah Wares adalah “Ban Serep” Presiden. Hal itu bisa dilihat dengan banyaknya kerbijakan yang keluar dari mejanya. Yang fundamental seperti konvensi minyak tanah ke gas yang menghemat anggaran negara hingga triliunan rupiah dan pendirian pembangkit tenaga listrik di pelosok-pelosok, ungkapnya kurang lebih “kalau negeri ini ingin maju maka semua orang harus mendapatkan layanan listrik”. Dan terakhir,  sosok Yusuf Kalla menampakkan jiwa sportivitas tinggi, berjiwa besar, dan amanah. Ia tidak “pundung” walau ia kalah dalam pemilihan presiden 2009, ia menghadiri serah terima jabatan Wapres 2009-2014, dan di akhir masa kerjanya ia tetap menjalankan roda pemerintahan. Tidak semuanya orang kalah itu salah, tidak semuanya orang kalah itu pecundang, bahkan kalau kebenaran itu datang dari mulut anak kecil pun ambilah ia sebagai hikmah.

Bila kita lihat beberapa dekade  kebelakang masih ada beberapa tokoh yang bisa kita ambil hikmah, walaupun tidak semua  pemahamannya bisa kita tiru bulat-bulat. Katakanlah Tan Malaka, walaupun ia seorang yang pemimpin komunis namun ia tetap kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan komunis, ia juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI).Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka  seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.

Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai “Pahlawan revolusi nasional” melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.

Sumber: Berita2 di TV dan wikipedia.org.