Untuk Apa Bekerja?


Sumber Gambar 3.bp.blogspot.com

Apa sih yang sebenarnya dicari orang saat bekerja? Mengapa mereka sampai rela banting tulang, kerja pagi, siang, malam. Terkadang sabtu minggu pun lembur. Seakan sayang meninggalkan waktu tanpa bekerja. Dan semakin lama semakin merasa bahwa waktu itu memang berharga, waktu itu adalah uang. Bila tidak bekerja, berarti tak ada uang. Bila tak ada uang, berarti tak bisa memenuhi keperluan hidup. Bila tak bisa memenuhi keperluan hidup, taruhannya adalah jiwa kita sendiri.

Alasan di atas sepintas tampak masuk akal dan logis. Tapi disisi lain sangat tragis, akan akibat yang dihasilkannya. Bahkan bisa membuat diri kita sendiri ketakutan. Seakan dalam hidup ini hanya itu salah satunya jalan hidup, terbutakan dengan logika itu. Tak ada pilihan jadinya. Hingga orang sangat mengelu-elukan sebuah pekerjaan. Pekerjaan adalah segalanya. Tanpa pekerjaan seseorang tak ada artinya. Pekerjaan itu ciri status sosial di masyarakat. Akan tetapi, inilah yang dinamakan “dunia terbalik” yang tidak banyak disadari kebanyakan orang.

Agama menuntun pemeluknya untuk menjadi abdi Tuhan. Jika setiap hari kita disibukan dengan mencari nafkah, lantas bagaimana bisa mengabdi. Bagaimana kita bisa beribadah. Padahal umat manusia itu diciptakan sedianya untuk beribadah. Bahkan lebih dari itu, menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk mengurusi bumi beserta isinya. Allah telah mengamahkan hal itu dengan menjadikan umat manusia sebagai abdi dan khalifah-Nya.

Selaku umat yang beragama, tak sepatutnya berfikir sangat matrealistik, positivistik, logistik, sampai lupa akan campur tangan Tuhan. Sejatinya, Tuhan yang memberi tugas kepada kita, Ia memberikan pula tuntunannya, Ia pun menjamin bekalnya. Bahkan terpampang dalam rukun iman yang ke-6. Jangankan seorang bagi seorang manusia, seekor nyamuk pun dijamin hidupnya, makan dan minumnya, oleh Tuhan.

Maka dari itu, bersikaplah adillah pada diri sendiri. Janganlah menjerumuskan diri kedalam kehancuran. Kita ini bukanlah sapi perah, yang terus diam dikandang, makan, dan diperah terus menerus untuk diambil air susunya. Kita ini bukanlah seonggok mesin, yang terus menderu, bekerja siang dan malam. Kita ini adalah manusia yang punya akal dan budaya. Kita adalah manusia yang diharuskan beribadah dan menjadi khalifah. Kita adalah manusia yang bisa mengurusi dirinya sendiri, memilih keinginannya sendiri. Bebas tapi bertanggung jawab. Kreatif tanpa harus destruktif. Bermain tanpa lupa belajar. Bekerja tanpa melupakan ibadah.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s