Malu dan Sikap Baru


Apa jadinya saat rekan kerja anda berani mempermalukan anda. Kejadian konyol yang telah anda lakukan disebar ke orang lain. Terlepas lingkup sebarnya luas atau tidak. Terlepas niatnya hanya untuk lucu-lucuan atau memang disengaja. Faktanya, anda merasa diri anda telah dipermalukan. Martabat anda terasa direndahkan. Kewibawaan anda terasa tergadaikan.

Serba salah, bingung, heran, marah, lucu, sedih, kecewa, semua campur aduk menjadi satu. Di satu sisi memakluminya. Namun di sisi lain kecewa karena anda telah dipermalukan. Apa yang salah dengan diri, mengapa harus terjadi hal semacam ini.

Ini adalah bercanda yang kebablasan. Tak ada rasa hormat. Tak menjaga kehormatan dihadapan orang lain. Walau bagaimana pun itu adalah aib. Terasa lebih menakutkan, lantaran di era ini, informasi sekecil apapun akan mudah beredar. Anda akan dikenal akan kekonyolan anda dan ditertawakan banyak orang.

Apa yang perlu diintrospeksi dari hal ini. Apakah ada hikmahnya. Berharap diri tetap tenang menghadapi kenyataan.

Bisa jadi ini cobaan. Mengingatkan bahwa tindak-tanduk diri kita sedianya sentiasa diawasi. Mudah bagi-Nya untuk membuka aib kesalahan yang kita lakukan, kapan saja dan pada siapa saja. Namun, sejatinya hal yang perlu kita takuti di saat benar-benar tak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Di akhirat kelak, semua aib kan tersingkap.

Mungkin hal berikut bisa menjadi rumus tuk menghadapi cobaan semacam ini. Sabar dan berserah diri pada-Nya. Bisa menjaga sikap di mana pun dan dengan siapapun. Termasuk saat di kesendirian. Meyakini tak kan ada yang sia-sia atas segala bentuk upaya positif untuk menghadapinya. Bila pun marah, malah akan memperburuk situasi. Malah bisa menambah catatan amal buruk. Maka maafkanlah dan perbaikilah sikap.

Berat. Tapi matahari kan tetap terbit esok pagi. Move on. Tak mungkin gara-gara hal sepele semacam itu membuat semuanya menjadi runyam. Buku catatan amal baik masih perlu terus ditambah. Banyak amalan shaleh yang perlu terus dilakukan. Tataplah masa depan untuk bisa istiqamah mengisinya. Teruslah berkarya, tebar manfaat, tegakkan kebenaran, cegah kemungkaran. Dengan sikap baru yang didapati. Dari hikmah yang terjadi. Semoga Tuhan meridhai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s