Bunga Bank Konvensional


Di dalam Al-Quran Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut)
jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu
tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka
ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan
memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan
riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak
menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”
(Al-Quran Surat Al-Baqarah: 278-279)

Di salah satu thread detikForum diperbincangan tentang beberapa fatwa yang pernah dikeluarkan oleh beberapa organisasi/lembaga seputar bunga bank:

Seperti diketahui, Muhammadiyah baru saja secara resmi mengeluarkan fatwa haram bunga bank pada Sabtu 3 April 2010. Fatwa haram terhadap bunga bank tersebut sebenarnya sudah diputuskan pada Musyawaran Nasional Muhammadiyah pada tahun 2006 lalu. Sementara Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan hukum haram bunga bank pada tahun 2003.

Wakil Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhamamdiyah Fatah Wibisono sebelumnya mengatakan, bunga bank hukumnya haram karena adanya imbalan atas jasa yang diberikan oleh pemilik modal atas pokok modal yang dipinjamkan. Tambahan imbal jasa itu bersifat mengikat dan diperjanjikan sebelumnya. Selain itu, haramnya bunga bank disebabkan karena yang menikmati bunga bank adalah para pemilik modal.

Sekarang di sini kita mendapatkan hubungan antara riba dan bunga. Pengertian Riba yang didapat di wikipedia:

Riba berarti menetapkan bunga/melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar . Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil.

Mari kita ambil contoh salah satu kasus, yakni seorang nasabah (A) yang membuka rekening tabungan di salah satu bank konvensional dan seorang nasabah lainnya (B) yang membuka rekening tabungan di bank syariah.  Ketika nasabah A membuka rekening baru di bank konvensional yang ditujunya, dia mendapatkan penjanjian menganai suku bunga. Yakni prosentase bulanan yang akan didapatkannya setiap bulan. Sedangkan nasabah B ketika membuka rekening baru perjanjian didapatkannya adalah nisbah bagi hasil antara dia dengan bank syariah yang ditujunya. Sekarang kita cermati dua hal tadi, bunga bank dan bagi hasil.

Sumber:

http://forum.detik.com/showthread.php?t=177120

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: