Ber-Qurban di Idul Adlha


Tidak semua orang merayakan hari Idul Adlha ini dengan kondisi aman, nyaman, seperti yang kita rasakan saat ini di negeri kita. Saudara muslim kita yang berada di tempat konflik harus merayakannya di bawah desingan senapan dan peluru-peluru yang menyambar. Oleh itu, jangan merasa beriman sebelum kamu diujiNya. Ujian tidak harus sama dengan mereka. Bagi kita yang berada di Indonesia, bisa berupa tekanan krisis ekonomi, bencana alam, peta politik yang sangat dinamis, sentiment terhadap agama, luapan informasi yang masuk sangat banyak dan tak terkendali, dan masih banyak lainnya. Semuanya berujung pada satu kata, pengorbanan. Bagaimana kita berkorban mengahadapi ujian. Dalam hidup di bawah naungan tauhid pasti ada ujian yang mau tak mau harus dibayar dengan pengorbanan.

Besar hikmah pengorbanan yang bisa kita ambil dari Hari raya Idul Adlha. Di bulan tempat hari raya Idul Adlha berada, sebagian kaum muslimin berbondong-bondong melaksanakan ibadah haji di Baitullah. Kita lihat satu persatu beberapa rukunnya. Ihram memiliki arti semua orang sama, tak melihat apakah sesorang itu kaya atau miskin, professor atau buruh, hitam atau putih, mereka harus menaggalkan pakaian merekan dan mengenakan pakaian yang sama, pakaian ihram. Karena pakaian yang terbaik adalah pakaian taqwa, itulah hikmahnya. Thawaf merepresentasikan bahwa kehidupan kita senantiasa berputar, kadang kita diberikan kenikmatan kadang pula ujian, saat ini kita senang kita senang bukan tidak mengkin kelak ditimpa musibah. Satu hal yang tidak boleh berubah di manapun kita berada, kita harus tetap berpusat pada pusat putaran, kiblat Baitullah. Jangan sampai kita lupa akan Allah, pusat segala-galanya. Sai, mengingatkan kita pada pengorbadan Siti Hajar yang mencari air dengan lari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah. Siti hajar rela ditempatkan dan ditinggalkan oleh suaminya di tanah gersang demi melaksanakan perintah Allah. Tahalul, berarti kita, yang harus rela memotong rambut kita yang notabene bermakna perhiasan bagi setiap orang, harus bisa berkoraban apapun termasuk yang kita kita miliki dan berada di dalam dirikita, jiwa kita, raga kita hanya karena Allah.

Efek yang harus ada, paling tidak, pada kita adalah derajat pengorbanan kita naik. Ambil salah satu kasus, mengeluarkan harta. Infak kita naik, yang asalnya 1000 seminggu sekali jadi 2000, yang asalnya 2000 seminggu sekali jadi 4000 dst. Laksanakan zakat mal, zakat fitrah, termasuk berkurban di hari kurban. Bantu saudara-saudara kita yang kesusahan, karena bencana, perang, atau lainnya. Kecil memang tapi jangan dianggap enteng. Karena berkorban dengan harta berbeda tantangannya dengan tenaga dan fikiran. Konon lebih berat, coba buktikan olehmu!. (hary ’09)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: