ISLAM DAN SUNNATULLAH


Allah yang telah menciptakan alam semesta ini (Al-Khaliq) telah memutuskan dalam takdir-Nya berbagai ketentuan atas seluruh makhluk.

49. Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al-Qamar: 49)

Berdasarkan sifatnya, takdir itu dapat diklasifikasikan menjadi [1]taqdir kauni yang sering disebut sebagai sunnatullah fil kaun (ketentuan/hukum alam) dan [2]taqdir syar’i (ketentuan hukum). Takdir kauni berlaku umum bagi seluruh makhluk di alam ini tanpa terkecuali, tidak ada yang dapat menghindar. Pada ketentuan inilah segala yang ada di langit dan di bumi tunduk dan patuh kepada Allah swt dengan sukarela atau terpaksa. Ketentuan syar’i pasti senada dan selaras dengan ketentuan kauni. Ketentuan syar’i menghendaki agar makhluk tunduk (Al-Khudluu’), sujud, tasbih, dan tahmid kepada Allah Al-Khaliq. Aturan-aturan syar’iyah itu disebutkan dalam [2.1]Islam yang diturunkan melalui para [2.2]rasul untuk manusia (Al-Insaan). Berbeda dengan takdir kauni (makhluk tak punya pilihan), takdir syar’i memberi peluang kepada manusia dan jin untuk memilih sesuai dengan pilihannya. Kerena itulah, dalam perkembangannya sikap mereka tidak sama. Yang menerimanya disebut muslim karena ia tunduk dan patuh sebagaimana sikap alam semesta terhadap takdir kauni. Yang menolaknya disebut kafir karena ia menutupi nikmat Allah yang diberikan kepadanya dengan kesombongan dan pembangkangan.

Kewajiban patuh kepada sunnatullah

Baik takdir syar’i maupun takdir kauni, semuanya diberlakukan di alam ini demi keselarasan dan keharmonisan hidup setiap makhluk, agar ia menjalani kehidupan ini sesuai dengan ketentuan yang sudah digariskan dan tidak melewati batas-batas. Sikap yang dilakukan manusia terhadap ketentuan ini harus sejalan dengan sikap alam semesta yaitu tunduk dan berserah diri (Al-Istislaam) kepada sunnatullah.

20. Dan kami Telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya. (Al-Hijr: 20)

Meskipun manusia merupakan bagian dari alam ini, namun karena dijadikan sebagai pengelola yang diberi akal dan nafsu, kadang sifatnya tidak selalu taat kepada sunnatullah itu. Karena ia adalah makhluk yang paling istimewa, kadang ia merasa congkak dan sombong. Kedudukan manusia yang lebih tinggi (potensi dan kemampuannya yang berbeda) menuntut ketentuan tambahan yang tidak sama dengan ketentuan yang diterapkan kepada alam (diciptakan sebagai fasilitas hidupnya). Dalam kerangka itulah kemudian kita menemukan sunnatullah pada alam semesta dan sunnatullah pada manusia.

Sunnatullah di alam semesta (Fil-Kaunii)

Ketentuan Allah terhadap alam semesta bersifat mutlak, tetap, dan terus-menerus. Mutlak (muthlaqun), karena ia berlaku umum bagi seluruh makhluk dan tidak dapat ditolak. Tetap (tsaabitun), karena tidak berubah kecuali apabila Allah menghendaki untuk menunjukkan kekuasaan-Nya sebagaimana yang terjadi pada mukjizat dan karamah. Terus menerus (mustamirun), karena tidak berhenti selama ada variabel dan sebab-musababnya. Sunnatullah yang demikian disebut takdir kauni (Kerentuan alam) yang disikapi dengan ketundukan dan pasrah (Al-Istislaam) . Pelanggaran terhadap ketentuan ini akan menyebabkan akibat fatal yang dapat dirasakan langsung atau tidak langsung, sekarang atau yang akan datang.

Sunnatullah pada manusia (Fil-Insaan)

Di samping berlaku sunnatullah sebagaimana di atas, manusia mendapat hidayah (Al-Hidayatu). Manusia juga diberi nafsu yang memiliki kemampuan untuk berkehendak (Al-Iraadatu) dan akal yang memiliki kemampuan untuk memilih (berusaha/ Al-Ikhtiyaariyyatu). Ketentuan syar’i (At-Taqdirusy-Syar’i) dimaksudkan untuk memagari nafsu dan kebebasannya agar tidak menyebabkan terjadinya kerusakan pada sistem global di alam semesta. Terhadap ketentuan inilah manusia terbagai menjadi dua golongan, muslim dan kafir.

18. Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui. (Al-Jaatsiyah: 18)

Ketaatan atau pelanggaran terhadap ketentuan iniakan mendapat konsekuensi hukum di dunia dan atau di akhirat.


SIFAT ISLAM

Sebagai agama atau sistem hidup yang Allah swt turunkan kepada manusia melalui para nabi dan rasul, Islam memiliki sejumlah sifat yang tidak dimiliki agama dan sistem manapun. Di antara sifat-sifatnya itu adalah:

  • Ia adalah agama/sistem yang sempurna (Ad-Diinul-Kaamilu)

pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (Al-Maidah:3)

Kesempuranaan itu ada pada agama ini karena ia adalah agama terakhir yang dimaksudkan untuk menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Sejalan dengan umur manusia dan kematangan berfikirnya, agama ini memiliki perangkat-perangkat yang lebih sempurna dibanding agama-agama sebelumnya, hal ini dapat kita temukan terutama pada aspek-aspek syariatnya. Islam juga diturunkan kepada Nabi paling sempurna yang dijuluki sebagai as-syafi’i al-musyaffa’. Julukan yang tidak diberikan kepada nabi-nabi yang lain karena hanya beliau saw yang diberi izin untuk memberi syafaat. Kesempurnaannya dapat kita temukan juga dalam implementasi dan cakupannya terhadap seluruh aspek kehidupan manusia, baik aspek kehidupan dunia maupun akhirat.

  • Nikmat yang sempurna (An-Ni’matut-Taammatu)

Di samping nikmat-nikmat lainnya, Islam merupakan nikmat yang paling sempurna. Hidayah sejati adalah nikmat, hidayah yang terstruktur dalam sistem hidup yang sempurna dalam agama ini adalah nikmat yang sangat besar karena ia hanya diberikan kepada umat Muhammad saw. Karena itu kemudian mereka diangkat menjadi ummatan wasathan, sebagai saksi atas umat manusia di dunia dan di akhirat. Dengan nikmat itu pula kaum mukminin menjadi umat terbaik yang pernah dilahirkan untuk seluruh umat manusia.

  • Agama/sistem yang diridlai (Ad-Diinul-Mardli)

Hal ini Allah utarakan berkali-kali dalam kitab suci-Nya. Pernyataan ini sekalius memberikan ketegasan bahwa agama dan sistem selainnya adalah sistem jahiliyah, batil, dan tidak diridlai. Syariat samawi yang diturunkan sebelumnya adalah syariat yang diridlai pada masanya. Setelah masa berlakunya habis, logika akal dan dalil syar’i menetukan bahwa syariat terakhirlah yang berlaku. Pemberlakuan syariat yang telah kadaluarsa masa berlakunya, merupakan pembangkangan terhadap syariat dan yang menurunkannya.

  • Agama fitrah (Diinul-Fithrati)

Bersamaan dengan penciptaan alam semesta ini, Allah menciptakan sifat dan karakteristiknya masing-masing. Karena Islam diturunkan oleh Dzat yang telah menciptakan alam semsesta berikut ketentuan-ketentuan kauniyahnya maka ia adalah sistem yang sejalan dengan fitrah kauniyah itu. Tidak ada perbedaan antara fitrah kauniyah dan fitrah syar’iyah, karena syari’at dibuat untuk menjaga fitrah kauniyah itu. Allah telah menciptakan manusia di atas fitrah ini. Penyimpangan atas fitrah yang bersih lagi lurus ini merupakan kesesatan yang hanya akan menimbulkan kerugian dan malapetaka bagi umat manusia dan alam semesta. Dalam hadits qudsi Allah berfirman, “Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif tapi kemudian seta menggelincirkan mereka dari agamanya.”

3 Responses

  1. yang semangat lg ku tunggu pöst slanjutnya.

  2. sesungguhnya, Allah menjadikan hanif stiap org.
    tau tak apa yg menjadi mengerasnya hati qt?
    sy bc di buku dokter clk. .mendengarkan musik yg mdtgkn syhwt atw musik: pkataan dusta n batil. itu dpt mngeraskn hati manusia.
    sbbnya jgnlah qt mbinasakan dr qt. kata Allah:’Dan janganlah kalian membinasakan drmu sndri’ He… jagalah diri qt dr api neraka. astagfrullaah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: